BAB I. MUQADDIMAH

1.1. Penyatuan Anak Cucu Adam

Dunia saat ini tengah mengalami krisis keimanan yang memicu pada krisis-krisis lain di berbagai bidang kehidupan. Kekuasaan dipakai alat untuk memakmurkan hawa nafsu dan menimbulkan perpecahan di antara umat manusia. Perpecahan antar individu, antar etnis bangsa, hingga yang dibatasi oleh batas negara. Oleh sebab itu mempersatukan umat adalah sangat penting dengan menyadarkan kita semua bahwa manusia adalah anak cucu Nabi Adam a.s. dan manusia adalah bagian dari manusia lainnya.

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
( QS. An Nisaa' [4]:1 )

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.
( QS. Ar Ruum [30]:22 )

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
( QS. Al Hujuraat [49]:13 )


1.2. Kembali Kepada Agama Yang Satu

Untuk mencapai tujuan penyatuan umat manusia yang beraneka-ragam latar belakang budaya, lingkungan, serta landasan berpikir, perlu adanya acuan yang dapat diterima oleh semua manusia. Maka untuk itu tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada nilai-nilai yang datang dari Yang Paling Berhak menentukan nilai.

(Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.
( QS. Asy Syuura [42]:53 )

Ada banyak acuan yang Allah berikan yaitu melalui Kitab-kitab-Nya. Dari Kitab-kitab Allah yang ada yang harus manusia imani, Al Qur'an adalah Kitab penyempurna yang dapat diambil sebagai acuan; difirmankan Allah, bahwa Al Qur’an adalah “batu ujian” atau sebagai penguji dan acuan bagi kitab-kitab yang lain. Al Qur'an juga disebutkan sebagai Kitab yang tetap terpelihara keotentikannya.

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.
( QS. Al Maa-idah [5]:48 )

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.
( QS. Al Hijr [15]:9 )


Selain manusia harus menyadari bahwa manusia itu sebenarnya tunggal sebaiknya juga manusia semua menyadari bahwa agama yang datang dari Yang Maha Pencipta itu adalah satu yaitu agama Tauhid. Allah tidak pernah menciptakan agama yang bermacam-macam. Agama yang beragam muncul dari manusia yang telah menggolong-golongkan agama itu sendiri.

Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).
( QS. Al Mu'minuun [23]:53 )

Sejak pada penciptaan pertama manusia hingga akhir zaman, agama itu hanya satu yaitu yang datang dari Allah. Begitupun para Nabi dan Rasul Allah semua berpegang pada satu agama.

Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.
( QS. Al Anbiyaa' [21]:92 )

Bagi hamba Allah yang menganggap dirinya bukan umat “Muslim” agar kita ketahui bersama bahwa Al Qur'an itu ditujukan untuk semua umat manusia yang berakal agar selamat (Islam). Adalah suatu keharusan bagi manusia semuanya untuk mengimani dan mentafakuri semua amanat-amanat Allah yang datang melalui seluruh Kitab-kitab-Nya.

Mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al Qur'an dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari.
( QS. Al An'aam [6]:26 )

Dan Al Qur'an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat.
( QS. Al Qalam [68]:52 )


1.3. Alam Semesta adalah Tanggung Jawab Manusia

Selain dengan menyadari bahwa manusia itu adalah tunggal, manusia juga harus menyadari bahwa ia mengemban tugas dari Allah sebagai khalifah-Nya (wakil Allah) di muka bumi untuk mengelola (memakmurkan) alam dan seisinya.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.
( QS. Al Ahzab [33]:72 )

Karena manusia mengemban amanat yang besar, maka Allah memberikan kesempurnaan kepada manusia dibandingkan dengan mahluk Allah yang lainnya yaitu akal.

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
( QS. Al Israa' [17]:70 )

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.
( QS. As Sajdah [32]:7-9 )

Dengan kelebihan yang diberikan Allah itu kebanyakan manusia lupa; semua yang ada padanya dianggap kepunyaannya, menganggap semua keberhasilan adalah hasil jerih payahnya. Padahal semua pemberian itu hanyalah titipan saja yang dijadikan Allah batu ujian untuk kehidupan selanjutnya yang kekal abadi. Diberikan-Nya kepandaian, harta kekayaan, diberikan pula segala kebutuhan manusia di muka bumi ini, ditumbuhkan-Nya tanam-tanaman, berbagai macam jenis hewan, binatang-binatang ternak, ditundukkan-Nya sungai, laut, matahari, bulan, bintang, semua diperuntukkan bagi manusia.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.
( QS. Al Baqarah [2]:164 )

Dalam kedudukan sebagai khalifah yang membawa amanat Allah yang besar, manusia harus konsekuen bertanggung jawab terhadap penggunaan fasilitas dan sarana yang Allah berikan kepada manusia.

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?
( QS. Al Qiyaamah [75]:36 )


Sebenarnya masih banyak lagi yang Allah berikan kepada manusia selain dari akal, yaitu suatu tanda-tanda kesempurnaan penciptaan alam semesta. Tanda-tanda penciptaan alam semesta yang ada pada diri manusia ini juga sebagai tanda-tanda kebesaran Allah, ini dapat kita lihat apabila kita berusaha mengenal diri kita sebagai jalan untuk mengenal Sang Pencipta.


Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?
( QS. Fushshilat [41]:53 )

Tanda-tanda kekuasaan Allah itu (di segenap ufuk dan pada diri mereka) adalah yang disebut alam semesta micro (‘alam sagiir) sebagai cermin dari alam semesta macro (‘alam kabiir). Atau ada juga yang menyebutkan bahwa “Manusia adalah photocopy alam semesta” atau dengan kata lain: Seluruh yang ada di alam ini (yang macro); termasuk umat manusia sejak zaman Nabi Adam a.s. sampai akhir zaman ada pada diri manusia. Dimana hukum ini sudah ditetapkan Allah sejak zaman Nabi Adam a.s., yaitu ketika terjadinya pembunuhan Habil oleh saudaranya Qabil.

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israel, bahwa: barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.
( QS. Al Maa-idah [5]:32 )

Dengan alasan “khalifah Allah dimuka bumi yang memegang amanat Allah” dan sebagai “kesatuan dari alam semesta” inilah, maka suatu kewajiban manusia seluruhnya untuk memakmurkan alam semesta ini sesuai dengan kehendak Allah Swt.

Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.
( QS. Ar Ruum [30]:9 )


1.4. Mengenal Diri Dengan Tafakur

Agar manusia dalam melaksanakan tugas sebagai khalifah ini berjalan dengan baik, maka ia perlu mengenal Sang pencipta. Ada satu kunci dalam perjalanan mengenal Pencipta ini yaitu dengan mengenal ciptaan-Nya. Sedangkan ciptaan Allah yang paling sempurna adalah manusia, sehingga Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: Man ‘arafa nafsahu, fa qad ‘arafa Rabbahu, Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya

Seperti pada penjelasan sebelumnya kita ketahui bahwa diri kita ini alam semesta micro, photocopy-nya alam semesta macro, maka dengan mengelola, memakmurkan, dan memelihara diri sendiri (alam semesta micro) maka sama halnya dengan mengelola, memakmurkan, dan memelihara alam semesta macro.

Dalam hal memakmurkan diri ini tidak dalam pengertian memakmurkan dengan berlandaskan hawa nafsu, tetapi memakmurkan dengan fitrah Allah serta iman yang hakiki. Karena tanpa fitrah Allah dan iman yang hakiki maka tidak akan menyatu dengan alam semesta macro. Alam semesta macro sudah fitrah, sudah tunduk patuh dan senantiasa bertasbih kepada Allah.

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.
( QS. Al Israa' [17]:44 )

Untuk mencapai fitrah Allah dengan mempunyai keimanan yang hakiki dan menjadikan satu rasa dengan alam semesta macro, memerlukan inisiatif kita untuk berangkat menuju Allah.

Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.
( QS. Faathir [35]:15 )

Allah mengisyaratkan agar manusia mempergunakan modal akal yang telah diberikan-Nya kepada manusia, karena dalam firman-firman-Nya itu banyak perumpamaan-perumpamaan yang harus kita fahami dengan tafakur (berfikir dengan akal hati).

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?" Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.
( QS. Al Baqarah [2]:26-27 )

Mari kita tafakuri, kita amati diri kita, dari mana kita datang dan akan kemana kita akan kembali.

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?
( QS. Ath-Thuur [52]:35 )

Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?
( QS. Maryam [19]:67 )

Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.
( QS. Ar Ruum [30]:8 )

Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar, Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu, dan hanya kepada-Nya-lah kembali (mu).
( QS. At Taghaabun [64]:3 )

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang gaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.
( QS. Huud [11]:123 )

Segala sesuatu mudah bagi Allah untuk membuat manusia agar beriman, tetapi Allah menghendaki manusia mempergunakan akalnya untuk menuju kepada-Nya. Tidak sedikitpun yang akan berkurang pada sisi Allah seandainya manusia semuanya tidak mau beriman.

Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.
( QS. Yunus [10]:99-100 )


1.5. Keimanan Hakiki

Allah mempunyai tujuan dalam penciptaan alam semesta beserta isinya ini. Alam semesta beserta isinya dijadikan Allah sebagai bukti kebesaran-Nya dan mahluk-mahluk Allah diciptakan untuk tujuan agar mereka semuanya menjadi hamba-Nya dengan menjalankan segala perintah-Nya sebagai wujud penghambaan.

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
( QS. Adz-Dzaariyaat [51]:56 )

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.
( QS. Al Bayyinah [98]:5 )

Antara 1 hari hingga rata-rata 60 tahun sampai 80 tahun umur manusia saat ini adalah waktu yang relatif singkat dalam perjalanannya di muka bumi, yang mana nanti akan dikembalikan manusia ini kepada Allah. Maka hanya dengan iman saja kita dapat kembali kepada kesempurnaan dengan menyadari bahwa tidak ada yang kita miliki selain dari titipan dari Allah termasuk diri kita sendiri.

Dan kepunyaan-Nya-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan untuk-Nya-lah ketaatan itu selama-lamanya. Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah?
( QS. An Nahl [16]:52 )

Pada kenyataannya sulit untuk menyatu padukan manusia kepada suatu jalan pengamalan syariah yang sama, tetapi akidah adalah tetap harus tetap dipegang teguh oleh setiap manusia. Akidah yang berpatokan pada kebenaran dan kebajikan yang sama, sehingga perbedaan yang Allah kehendaki adalah perbedaan yang menjadikan manusia bersaing dalam berlomba dalam mencapai kebaikan, kebajikan, dan keridhaan-Nya, bukan perbedaan yang menjadikan manusia saling memusnahkan.

Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.

Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.

Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman: “Berbuatlah menurut kemampuanmu; sesungguhnya kami pun berbuat (pula)”. Dan tunggulah (akibat perbuatanmu); sesungguhnya kami pun menunggu (pula)”.
Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.
(QS. Huud [11]:118-123)

Keimanan hakiki adalah nilai keimanan yang datang dari Allah, yaitu manusia harus kembali kepada fitrah dari Allah dengan berpegang pada nilai-nilai tauhid dengan menjalankan ketetapan-ketetapan Allah. Sehingga apabila nilai-nilai keimanan hakiki ditanamkan pada setiap manusia dari golongan manapun ia datang, diharapkan keselamatan dunia dan akhirat akan tercapai.

Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah (kepada mereka): "Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: "Kami telah tunduk", karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".
( QS. Al Hujuraat [49]:14 )