METODA PENGENALAN DIRI MENUJU KEIMANAN HAKIKI UNTUK KESELAMATAN DUNIA & AKHIRAT
Pengantar
Suka, duka, nikmat, bencana, bahagia dan derita adalah suatu kenyataan dalam kehidupan. Tapi justru karena itulah kehidupan dunia ini beromantika. Rotasi roda kehidupan ini oleh Allah dijadikan sebagai alat untuk menguji tingkat stabilitas seseorang (QS. Al Anbiyaa' [21]:35). Congkakkah kita pada saat memperoleh nikmat? Goncangkah kita saat tertimpa bencana?Apakah kita kehilangan kendali saat berada di puncak keberhasilan dan tidak kehilangan harapan pada saat terpuruk dalam jurang kegagalan?
Dalam perspektif antropologi Qur’ani, manusia memiliki kejiwaan yang sangat labil, lemah, dan mudah sekali goyang (QS. Al Ma'aarij [70]:19-41). Ia mudah bersikap congkak ketika memperoleh sedikit kenikmatan dan mengeluh saat tertimpa sedikit bencana. Sehingga tidak jarang suatu kenikmatan bukan menjadi pembuka pintu kesadaran untuk bersyukur kepada Allah, tetapi justru menjadi congkak.
Faktor utama yang menimbulkan destabilisasi psikologis manusia menurut Allah adalah kerena keyakinan bahwa ”totalitas hidup dan apa yang dimilikinya adalah berpangkal dari Allah dan akan berpulang kepada Allah jua” telah tergoyahkan oleh kekuatan daya pikat dunia.
Peringatan dan nasihat memegang peranan penting untuk menstabilkan kembali kondisi psikologis seseorang yang terganggu oleh goncangan siklus kehidupan itu. Urgensi peringatan nampak sekali dari keseriusan Allah yang selalu mengingatkan kepada manusia agar senantiasa menyadari tentang hakikat kehidupan dunia ini, kesementaraan dunia dan kehidupan abadi di akhirat nanti.
Seorang mu’min sejati tidak akan pernah merasa kenyang dengan nasihat dan peringatan. Karena korelasi antara kesediaan seseorang untuk menerima nasihat dan peringatan erat sekali dengan intensitas dan kualitas amaliahnya serta stabilitas psikologisnya. Peringatan dan nasihat pun tidak hanya berperan sebagai pengendali tapi juga berperan dinamis sebagai pembangun motivasi dan optimisme.
Selain melalui Al Qur’an, peringatan pun Allah sampaikan melalui Hadist Qudsi. Intinya sama, yang berbeda hanya kemasan bahasa. Ini dapat dipahami karena Allah hendak mentransformasikan peringatan itu dengan berbagai cara, mengingat karekter manusia yang menjadi objek sangat beragam. Melalui hadist qudsi-Nya, Allah menyampaikan peringatan dengan wacana yang lebih lugas, mudah dicerna dan gaya bahasa yang sangat komunikatif.
Dengan bahasa yang lugas Allah mengingatkan bahwa kebanyakan manusia jika mau sadar sesungguhnya adalah masih buta hati. Setiap saat menikmati karunia Allah justru selalu berbuat durjana.
Sekalipun peringatan itu telah lugas disampaikan tetapi tidaklah menjadi jaminan akan dapat dicerna dan membuka kesadaran baru, karena semua sangat bergantung pada kondisi mentalitas si penerima; apakah memiliki hati yang keras atau tidak. Bisa saja mengerti maksud peringatan itu, namun hati tertutup untuk menerima, apalagi mengamalkan peringatan itu.
Secara keseluruhan kandungan hadist qudsi ini juga seolah-olah menyuruh manusia agar menjauh dari kehidupan duniawi. Padahal sesungguhnya tidaklah demikian maksudnya, karena dunia ini telah Allah ciptakan dan tetap harus diusahakan. Peringatan dalam hadist qudsi ini diarahkan pada orang-orang yang terjebak dalam perburuan harta-benda. Dengan peringatan ini kesadaran manusia akan timbul untuk kembali lagi pada keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat.
Semoga koleksi Hadist Qudsi al-Ghazali ini dapat menjadi pembuka pintu kesadaran dalam melakukan pertobatan dan tergugah untuk memperbaiki amal perbuatan.
Peringatan pertama
Allah berfirman:
“Wahai manusia! Aku heran pada manusia yang yakin akan kematian, tapi ia hidup bersuka ria. Aku heran pada manusia yang yakin akan pertanggungjawaban segala amal perbuatan di akhirat, tapi ia asyik mengumpulkan harta benda. Aku heran pada manusia yang yakin akan kubur, tapi ia tertawa terbahak-bahak.
Aku heran pada manusia yang yakin akan adanya alam akhirat, tapi ia menjalani kehidupan dengan bersantai-santai. Aku heran pada manusia yang yakin akan kehancuran dunia, tapi ia sangat menyukainya.
Aku heran pada manusia intelek yang bodoh dalam soal moral.
Aku heran pada manusia yang bersuci dengan air, sementara hatinya masih tetap kotor.
Aku heran pada manusia yang sibuk mencari aib orang lain, sementara ia tidak sadar akan cacat yang ada pada diri.
Aku heran pada manusia yang yakin bahwa Aku senantiasa mengawasi segala prilaku, tapi ia tetap berbuat durjana.
Aku heran pada manusia yang sadar akan kematian, kemudian akan tinggal di kubur seorang diri, lalu dimintai pertanggungjawaban seluruh perbuatannya, tapi berharap belas-kasih orang lain.
Sungguh tiada sembahan selain Aku dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Ku”.
Peringatan Kedua
Allah berfirman:
“Aku bersaksi bahwa tiada sembahan selain Aku. Tiada sekutu bagi-Ku. Dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Ku.
Barangsiapa tidak mau menerima suratan nasib yang telah Aku putuskan, tidak bersabar atas segala cobaan yang Aku berikan, tidak mau berterimakasih atas segala nikmat yang Aku curahkan, dan tidak mau menerima apa adanya atas segala yang Aku berikan, maka sembahlah tuhan selain Aku.
Barangsiapa yang susah karena urusan dunia, sama saja ia marah kepada-Ku. Barangsiapa mengadukan musibah yang menimpa dirinya (kepada orang lain), ia sungguh-sungguh berkeluh-kesah kepada-Ku
Barangsiapa menghadap kepada orang kaya dengan menundukkan diri karena kekayaannya, maka lenyaplah dua per tiga agama.
Barangsiapa menampar mukanya atas kematian seseorang, maka ia sama saja dengan mengambil sebuah tombak untuk memerangi Aku.
Barangsiapa memecah kayu di atas kubur, maka ia sama saja dengan merobohkan pintu Ka’bah-Ku.
Barangsiapa tidak peduli terhadap cara mendapatkan makanan, berarti ia tidak mempedulikan dari pintu mana Allah akan memasukannya ke dalam neraka jahanam.
Barangsiapa siapa tidak bertambah tingkat penghayatan keagamaannya, sungguh ia dalam keadaan selalu berkurang.
Barangsiapa yang terus-menerus dalam keadaan berkurang, kematian adalah jauh lebih baik baginya.
Barangsiapa mengamalkan ilmu yang ia ketahui, maka Allah akan menganugrahkan ilmu yang belum ia ketahui.
Barangsiapa yang angan-angannya membumbung tinggi, maka amal perbuatannya akan keruh.
Peringatan Ketiga
Allah berfirman:
“Wahai manusia! Terimalah anugrah yang Kuberikan dengan lapang dada, maka engkau tidak akan berharap pada pemberian orang lain. Tinggalkanlah rasa dengki, maka engkau terhindar dari kegelisahan hidup. Hindari perbuatan haram, maka engkau aman dari kerancuan dalam beragama.
Barangsiapa mampu menjaga diri dari membicarakan kejelekan orang lain, maka kecintaan-Ku akan Kuanugrahkan kepadanya. Barangsiapa mengisolasikan diri dari kerumunan orang, maka ia akan terhindar dari pengaruh jeleknya.
Barangsiapa mampu membatasi diri dari berbicara yang tidak ada gunanya, itu menandakan kematangan akalnya. Barangsiapa menerima dengan lapang dada atas pemberian Allah yang sedikit, maka ia penuh percaya kepada Allah.
Wahai manusia! Jika engkau tidak melaksanakan ilmu yang telah engkau ketahui, maka bagaimana mungkin engkau dapat mencari ilmu yang belum engkau ketahui.
Wahai manusia! Bekerjalah di dunia seakan engkau tidak akan mati esok. Kumpulkanlah harta seolah engkau akan hidup kekal di dunia.
Wahai dunia! Janganlah kau beri orang yang memburu dirimu. Carilah orang yang menghindar darimu. Jadilah kamu laksana manisan bagi mata orang yang memandangmu”.
Peringatan Keempat
Allah berfirman:
“Wahai manusia! Barangsiapa berduka karena persoalan dunia, maka ia hanya akan kian jauh dari Allah, kian nestapa di dunia dan semakin menderita di akhirat. Allah akan menjadikan hati orang tersebut dirundung duka selamanya, kebingungan yang tak berakhir, kepapaan yang berlarut-larut dan angan-angan yang selalu mengusik ketenangan hidupnya.
Wahai manusia! Hari demi hari usiamu kian berkurang, sementara engkau tidak pernah menyadarinya. Setiap hari Aku datangkan rejeki kepadamu, sementara engkau tidak pernah memuji-Ku. Dengan pemberian yang sedikit engkau tidak pernah mau lapang dada. Dengan pemberian yang banyak, engkau tidak juga merasa kenyang.
Wahai manusia! Setiap hari Aku mendatangkan rejeki untukmu, sementara setiap malam malaikat datang kepada-Ku dengan membawa catatan perbuatan jelekmu.
Engkau makan dengan lahap rejeki-Ku, namun engkau tak segan-segan pula berbuat durjana kepada-Ku. Aku kabulkan jika engkau memohon kepada-Ku. Kebaikan-Ku tak putus-putus mengalir untukmu, namun sebaliknya catatan keburukanmu sampai kepada-Ku tiada henti.
Akulah pelindung terbaik untukmu, sedangkan engkau hamba terjelek bagi-Ku. Kau raup segala apa yang Kuberikan untukmu. Kututupi kejelekan demi kejelekan yang telah kau perbuat secara terang-terangan. Aku sungguh sangat malu kepadamu, sementara engkau sedikit pun tak pernah merasa malu kepada-Ku.
Engkau melupakan diri-Ku dan mengingat yang lain. Kepada manusia engkau merasa takut, sedangkan kepada-Ku engkau merasa aman-aman saja. Kepada manusia engkau takut dimarahi, tetapi kepada murka-Ku engkau tak peduli”.
Peringatan Kelima
Allah berfirman:
“Wahai manusia! Jangan engkau menjadi orang yang terlambat dalam bertobat, membumbung angan-angan dan mengharap kenikmatan hidup di akhirat tanpa amal. Berkata seperti ahli ibadah, beramal seperti orang munafik. Jika diberi karunia tidak pernah mau menerima apa adanya. Jika tidak diberi tidak mau bersabar.
Mengajak berbuat baik pada orang lain tapi ia sendiri mengabaikannya. Mencegah orang lain agar tidak berbuat nista, sementara ia sendiri melakukannya. Mencintai orang yang suka berbuat baik, namun ia sendiri tidak masuk di dalamnya.
Membenci orang yang bersikap hipokrit, padahal ia termasuk di dalamnya. Mengatakan sesuatu yang tidak ia perbuat dan melakukan apa yang ia cegah. Menuntut orang lain memenuhi janji, namun ia sendiri mengkhianatinya.
Wahai manusia! Dalam setiap pergantian hari, sesungguhnya bumi selalu berkata kepadamu: Wahai manusia! Engkau berjalan di atas punggungku, kemudian jenazahmu ditaruh di dalam perutku. Engkau makan sesuka hatimu di atas punggungku dan setelah itu ulat-ulat memakan bangkaimu di dalam perutku.
Wahai manusia! Sungguh aku ini adalah sarang binatang buas, rumah saling menuntut, rumah tempat tinggal bersama, rumah kegelapan, sarang ular dan kalajengking. Maka hendaknya engkau membangun diriku, bukan justru memporak-porandakan diriku”.
Peringatan Keenam
Allah berfirman:
“Wahai manusia! Aku tidak menciptakanmu karena Aku menginginkan agar yang sedikit menjadi banyak karenamu, tidak karena Aku ingin menjadikan luluhnya binatang buas keranamu, tidak karena Aku ingin meminta pertolongan dalam urusan yang Aku tak mampu, tidak karena ingin menarik keuntungan bagi-Ku atau pula untuk menolak yang membahayakan bagi diri-Ku.
Aku menciptakanmu agar tiada henti menyembah-Ku, bersyukur sebanyak mungkin dan menyucikan-Ku pagi dan sore.
Wahai manusia! Andai manusia yang pertama dan paling akhir di antara kalian, seluruh jin dan manusia, baik tua maupun muda, baik yang merdeka maupun hamba sahaya berkumpul semua tunduk dan patuh kepada-Ku, setitik tepung pun tidak akan menambah kebesaran singgasana kekuasaan-Ku.
Barangsiapa berjihad di jalan Allah, sesungguhnya ia berjuang untuk kebaikan dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah tidak butuh sama sekali terhadap alam semesta.
Wahai manusia! Sebagaimana engkau menyakiti, engkau akan disakiti. Sebagaimana engkau berbuat, engkau akan diperlakukan”.
Peringatan Ketujuh
Allah berfirman:
“Wahai manusia! Wahai budak-budak uang! Aku menjadikan uang agar engkau dapat menikmati rejeki-Ku, mengenakan pakaian-Ku dan agar kalian semua membaca tasbih serta mensucikan diri-Ku. Tetapi ternyata kalian semua mengambil kitab suci-Ku, lalu engkau taruh di belakangmu dan engkau mengambil uang lalu engkau tempatkan di atas kepalamu.
Engkau agung-agungkan rumahmu dan kau remehkan rumah-Ku. Sungguh engkau bukanlah manusia-manusia pilihan, bukan orang-orang yang merdeka. Tapi engkau adalah budak-budak dunia.
Sekumpulan manusia semacam dirimu laksana sebuah kuburan yang dibangun dengan tembok. Sepintas jika dilihat dari luar nampak cantik molek, tapi di dalamnya jelek.
Begitu pula dengan sikapmu, sepintas kalian berbuat bajik, simpatik dan penuh kasih sayang pada orang lain dengan mulutmu yang manis dan perbuatanmu yang indah memikat. Namun itu pula engkau sesungguhnya hatimu keras dan kasar serta budi-pekertimu yang nista.
Wahai manusia! Bersihkan perbuatanmu dari noda, lalu mintalah kepada-Ku! Sungguh Aku akan memberi kepadamu lebih banyak lagi dari apa yang diminta oleh para peminta”.
Peringatan Kedelapan
Allah berfirman:
“Wahai manusia! Aku menciptakan kamu sekalian tidaklah main-main. Tidak pula tanpa tujuan. Sungguh Aku bukanlah pelupa. Aku sesungguhnya mengetahui seluruh gerak-gerikmu.
Engkau tidaklah akan memperoleh karunia-Ku kecuali dengan sabar atas segala apa yang tidak engkau sukai dalam mencari keridlaan-Ku.
Bagi kamu; sabar dalam patuh dan tunduk kepada-Ku lebih ringan daripada sabar dalam durhaka. Meninggalkan dosa jauh lebih ringan bagimu daripada pembebasan-Ku kepadamu dari panas api neraka. Siksa di dunia lebih ringan bagimu dibanding siksa di akhirat.
Wahai manusia! Kamu sekalian adalah orang yang sesat, kecuali yang Aku beri petunjuk. Kamu sekalian adalah orang yang melakukan perbuatan jelek, kecuali yang Aku lindungi.
Mintalah ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengasihimu. Janganlah kalian mengungkap rahasia kejelekanmu di hadapan Dzat Maha Mengetahui segala rahasia”.
Peringatan Kesembilan
Allah berfirman:
“Wahai manusia! Janganlah kamu mengutuk para mahluk, karena kutukanmu justru akan mencelakakan dirimu sendiri.
Wahai manusia! Langit tegak berdiri di angkasa hanya cukup dengan satu nama di antara nama-nama-Ku tanpa tiang penyangga, sementara hatimu tidak pernah bisa tegak lurus dengan seribu nasihat dari kitab-Ku.
Wahai manusia! Sebagaimana sebongkah batu yang tidak bisa luluh di dalam air, suatu nasihat tidak berpengaruh sama sekali pada hati yang keras.
Wahai manusia! Bagaimana engkau bisa menyatakan diri sebagai hamba Allah, sementara kamu berbuat durjana.
Bagaimana engkau bisa yakin akan kematian, sementara engkau membencinya. Dengan mulutmu engkau mengatakan sesuatu yang tidak engkau ketahui, engkau menganggapnya enteng, padahal di sisi Allah amatlah besar”.
Peringatan Kesepuluh
Allah berfirman:
“Wahai manusia! Telah datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu dan obat bagi hati. Lalu mengapa kamu tidak sudi berbuat baik, kecuali pada orang yang berbuat baik kepadamu, tidak mau menyambung tali silaturrahim kecuali pada orang yang mengunjungimu, tidak mau bercakap-cakap kecuali pada orang yang mau berbicara padamu, tidak mau memberi makan selain pada orang yang memberi makan kepadamu dan tidak mau menghormati selain pada orang yang menghormatimu?
Tak ada keutamaan bagi seorang yang merasa lebih utama daripada orang lain.
Seorang mukmin adalah orang yang beriman pada Allah dan Rasul-Nya, yang tetap berbuat baik terhadap orang yang melakukan keburukan kepadanya, menyambung tali silaturrahim pada orang yang memutus tali silaturrahim, mengampuni orang yang berbuat salah kepadanya, memenuhi janji pada orang yang mengkhianatinya, tetap mau bicara dengan orang yang tidak mau akur pada dirinya, tetap menghormati orang yang merendahkannya. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui pada semua perbuatanmu”.
Peringatan Kesebelas
Allah berfirman:
“Wahai manusia! Dunia ini sesungguhnya adalah tempat bagi orang tuna wisma dan harta bagi orang yang papa. Tempat berkumpul orang yang tidak waras. Karena dunia, orang-orang yang tidak mengerti bersuka-ria. Pada dunia orang-orang yang tidak berserah diri pada Tuhan memburu. Pada kesenangan hidup orang-orang yang tidak mengenal dunia berlomba-lomba.
Maka barangsiapa yang mendambakan kenikmatan yang semu dan hidup sementara, sesungguhnya ia telah berbuat aniaya pada dirinya dan durhaka pada Tuhannya. Ia melupakan kehidupan akhirat dan terpedaya oleh kemilau dunia.
Ia sesungguhnya menghendaki dosa yang nampak dan yang tidak nampak. “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat dosa akan dibalas sesuai dengan perbuatan yang merekan lakukan”.
Wahai manusia! Berdaganglah engkau kepada-Ku. Tapi rendahkanlah dalam memungut laba, karena di sisi-Ku ada imbalan yang tak mungkin dilihat mata, tak mungkin didengar telinga dan tak mungkin tergambar dalam benak seorang hamba.
Kekayaan-Ku tak akan pernah habis dan tak akan pernah berkurang. Aku adalah Sang Maha Pemberi lagi Maha Pemurah.
Peringatan Keduabelas
Allah berfirman:
“Wahai manusia! Ingatlah pada nikmat-Ku yang Kuberikan padamu. Penuhilah perjanjian yang kau ikat denganKu, Aku akan memenuhi janji yang Kuikat denganmu.
Hanya kepada-Ku engkau kembali. Sebagaimana tidak mungkin engkau dapat menemukan arah jalan tanpa petunjuk, maka demikian pula engkau tidak akan menemukan jalan ke surga kecuali dengan amal perbuatan. Sebagaimana harta yang tidak mungkin terkumpul tanpa jerih-payah, demikian pula engkau tidak akan masuk surga tanpa sabar dalam menghamba kepada-Ku.
Maka mendekatlah kepada Allah dengan ibadah sunnah. Carilah keridlaan-Ku dengan mencari keridlaan orang-orang miskin.
Carilah rahmat-Ku dengan menyertai pada ulama. Karena rahmat-Ku tak sekejap pun terpisah dari mereka”.
Allah berfirman:
“Wahai Musa! Dengarkanlah apa yang akan Kukatakan. Barangsiapa yang sombong pada orang miskin, sesungguhnya akan Aku kumpulkan di hari kiamat kelak dalam bentuk semut kecil. Barangsiapa yang mencoba membeberkan rahasia orang miskin, maka kelak di hari kiamat akan Aku kumpulkan dalam keadaan terbeber rahasianya. Barangsiapa merendahkan orang miskin, maka ia sungguh menantang perang dengan-Ku. Barangsiapa beriman kepada-Ku, malaikat akan menyalaminya di dunia dan akhirat.”
Peringatan Ketigabelas
Allah berfirman:
“Wahai manusia! Berapa banyak lampu yang padam oleh hembusan angin. Betapa banyak orang yang ahli ibadah celaka karena kesombongan dan pamer. Betapa banyak orang yang kaya celaka karena kekayaannya. Betapa banyak orang yang miskin celaka karena kefakirannya. Betapa banyak orang yang sehat celaka karena kesehatannya. Betapa banyak orang yang berilmu celaka karena keilmuannya. Betapa banyak orang yang bodoh celaka karena kebodohannya.
Andaikata tidak ada orang-orang tua yang selalu ruku’, pemuda-pemuda yang khusyu, anak-anak kecil yang menetek, dan binatang-binatang ternak yang berkeliaran mencari rerumputan, niscaya Aku akan merubah langit menjadi besi, bumi menjadi batu licin yang kering-kerontang dan debu menjadi kerikil. Setetes pun tidak akan pernah Kuturunkan air hujan dari langit. Tak sebutur biji pun akan Kutumbuhkan di bumi. Dan sesungguhnya akan Kucurahkan siksa kepadamu”.
Peringatan Keempatbelas
Allah berfirman:
“Wahai manusia! Carilah Aku dengan kadar kebutuhanmu kepada-Ku. Berbuat durhaka kepada-Ku menurut kadar kesabaranmu pada siksa api neraka.
Janganlah engkau pandang pada ajalmu yang masih tertunda, jangan pula engkau memandang pada rejekimu yang kau raih hari ini dan dosa-dosamu yang tersembunyi. Segala sesuatu akan hancur kecuali Dzat-Nya.
Di tangan-Nya kekuasaan untuk memutuskan tergenggam. Kepada-Nya pula engkau akan dipulangkan kembali”.
Peringatan Kelimabelas
Allah berfirman:
“Wahai manusia! Jika agamamu, dagingmu, dan darahmu baik, maka amal perbuatanmu, dagingmu, darahmu akan baik pula. Jika rusak agamamu, maka rusak pula amal perbuatanmu, dagingmu, dan darahmu.
Oleh karena itu janganlah engkau seperti lampu yang menerangi orang lain, namun membakar dirinya sendiri. Lemparkanlah jauh-jauh kecintaan pada dunia dari lubuk hatimu, karena Aku tidak mungkin selamanya akan mengumpulkan cinta pada dunia dan cinta pada-Ku dalam satu hati.
Berlakulah belas-kasih pada dirimu sendiri dalam mengumpulkan harta kekayaan, karena rejeki telah ditentukan bagiannya. Orang yang memburu harta kekayaan hanyalah akan menemui kegagalan.
Orang kikir akan tercela. Kenikmatan hanyalah sementara. Memikirkan sesuatu masalah sampai ke akar-akarnya adalah tercela. Ajalpun telah ditentukan. Kebenaran telah nyata. Sebaik-baiknya hikmah Allah adalah khusyu. Sebaik-baiknya kekayaan adalah menerima apa adanya. Sebaik-baiknya bekal adalah taqwa. Sebaik-baik apa yang datang pada hati adalah keyakinan dan sebaik-baik apa yang Aku berikan untukmu adalah kesehatan”.
Peringatan Keenambelas
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa engkau mengatakan sesuatu yang tidak engkau perbuat. Betapa banyak engkau berkata-kata dan betapa banyak pula engkau mengkhianatinya. Betapa banyak engkau mencegah orang lain agar tidak melakukan keji, padahal engkau sendiri melakukannya. Betapa banyak engkau memerintah pada orang lain untuk berbuat kebajikan, padahal engkau sendiri tidak melakukannya.
Betapa banyak engkau mengumpulkan harta-benda, padahal engkau tidak mungkin akan memakan semuanya.
Betapa banyak kesempatan taubat engkau tunda hari demi hari dan tahun demi tahun, tanpa mau merenungkan sama sekali; apakah engkau akan terhindar dari kematian?
Apakah engkau dapat lolos dari siksa api neraka? Ataukah engkau sangat yakin akan meraih kenikmatan surga? Apakah di antara engkau dan Sang Pengasih terdapat rahmat? Kenikmatan telah membuatmu angkuh dan sombong. Kebaikan telah menyebabkan engkau celaka.
Angan-angan yang membumbung tinggi telah menjadikan engkau terpikat oleh dunia. Engkau menyia-nyiakan kesehatan dan kesejahteraan, padahal hari-harimu jelas berlalu dan nafas-nafasmu telah ditentukan batasnya. Beramallah untuk kebaikanmu dengan apa yang tersisa dalam hidupmu
Wahai manusia! Sesungguhnya engkau tidak menghiraukan amal perbuatanmu, padahal setiap hari usiamu terus berkurang sejak engkau keluar dari perut ibumu. Hari demi hari engkau kian dekat pada kuburanmu hingga akhirnya engkau memasukinya.
Wahai manusia! Kehidupan di dunia laksana lalat. Ketika terjatuh ke dalam madu, maka ia lengket melekat. Karena itu janganlah engkau seperti kayu bakar yang membakar dirinya dengan api untuk yang lain”.
Peringatan Ketujuhbelas
Allah berfirman:
“Wahai manusia! Berbuatlah sebagaimana Aku memerintahkan kepadamu. Hindarilah perbuatan yang Aku larang, maka Aku akan menjadikan engkau hidup selamanya. Aku adalah Dzat yang hidup, tidak akan pernah mati selamanya. Apabila Aku mengatakan pada sesuatu: “Jadilah engkau”, maka sesuatu itu akan jadi.
Wahai manusia! Jika perkataanmu indah menawan, sementara perbuatanmu buruk, maka engkau adalah gembong orang-orang munafik. Jika lahirmu indah menawan, sedangkan batinmu buruk, maka engkau termasuk orang celaka, yaitu orang yang menipu Allah, padahal justru Allah yang menipu mereka. Tiadalah mereka menipu kecuali pada dirinya sendiri, hanya saja mereka tidak menyadari.
Wahai manusia! Tidaklah akan masuk surga kecuali orang yang merundukkan diri pada keagungan-Ku, mengisi seluruh hari-harinya dengan mengingat-Ku dan menahan hawa nafsunya demi Aku.
Aku yang memberi tempat tinggal pada pelancong, yang memberikan rasa aman pada orang fakir, yang menyantuni anak yatim laksana seorang ayah yang penuh kasih sayang, dan yang menyantuni para janda sebagaimana seorang suami yang mencintai dan menyayanginya.
Barangsiapa berkepribadian dengan sifat-sifat ini, jika ia memohon kepadaku, Aku akan mengabulkan segala permohonannya. Dan jika ia meminta sesuatu kepada-Ku, maka Aku akan memberi segala apa yang dia minta”.
Peringatan kedelapanbelas
Allah berfirman:
“Kepada siapakah engkau akan mengadukan diri-Ku, padahal tak ada satupun yang menyamai diri-Ku sebagai tempat pengaduanmu?
Sampai kapankah engkau akan melupakan diri-Ku, padahal sama sekali Aku tak menuntut apa-apa darimu?
Sampai kapankah engkau kufur kepadaKu, padahal Aku tidak pernah berbuat aniaya pada para hamba? Sampai kapankah engkau meremehkan kitab-Ku, padahal Aku tidak pernah memberi beban kewajiban yang melebihi kemampuanmu. Sampai kapankah engkau menentang kepada-Ku? Sampai kapan pula engkau membangkang kepada-Ku, padahal tidak ada sembahan selain Aku?
Bila engkau sakit, dokter yang manakah selain diri-Ku yang mampu menyembuhkanmu? Engkau mengadukan kesusahanmu kepada-Ku, namun engkau tidak mau menerima surat takdir-Ku.
Akulah yan mengirim air hujan yang lebat. Lalu engkau katakan; kita dihujani oleh bintang ini. Sungguh engkau telah kufur kepada-Ku dan beriman pada bintang.
Akulah yang menurunkan rahmat-Ku dalam berbagai ukuran. Apabila engkau memperoleh makanan untuk tiga hari, engkau berkata; Aku dalam keadaan sial, tidak dalam keadaan mujur.
Maka sungguh engkau telah mengingkari nikmat-Ku. Barangsiapa membangkang untuk mengeluarkan zakat dari sebagian harta kekayaannya, sesungguhnya ia meremehkan kitab-Ku. Apabila ia menemui waktu shalat, tapi ia tidak menunaikannya, maka ia sungguh-sungguh melupakan diri-Ku”.
Peringatan Kesembilanbelas
Allah berfirman:
“Wahai manusia! Bersabarlah dan merunduklah, maka Aku akan mengangkat derajatmu. Bersyukurlah kepada-Ku, Aku akan menambah nikmat-Ku. Mohon ampunlah kepada-Ku, Aku akan mengampunimu.
Bila engkau berdo’a pada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Bertobatlah pada-Ku, Aku akan memberikan pertobatan padamu. Mintalah pada-Ku, Aku akan memberi apa yang engkau minta. Bersedekahlah, Aku akan memberi keberkahan dalam rejekimu. Sambunglah tali persaudaraan, Aku akan menambah usiamu. Mintalah dari-Ku kesehatan dengan kesehatan yang langgeng, kesejahteraan dalam keguyuban, ikhlas dalam mengharap ridla, wara’ dalam pertaubatan dan berkecukupan dalam menerima apa adanya atas karunia ilahi.
Wahai manusia! Bagaimana mungkin engkau berharap akan tekun beribadah sementara perutmu dalam kekenyangan? Bagaimana mungkin engkau akan cinta pada Allah, sementara engkau cinta pada harta? Bagaimana mungkin engkau akan takut pada Allah, sementara engkau takut pada kefakiran? Bagaimana mungkin engkau akan menjalankan hukum Allah dengan sangat konsisten, sementara engkau masih tergila-gila memburu harta?
Bagaimana mungkin engkau akan meraih keridlaan Allah tanpa keridlaan orang-orang miskin? Bagaimana mungkin engkau akan dapat hidup dalam damai, sementara engkau memupuk sifat kikir? Bagaimana mungkin engkau mendambakan hidup di surga kelak, sementara engkau gandrung pada dunia dan sanjungannya?
Bagaimana mungkin engkau berharap akan meraih kebahagiaan hidup dalam keadaan engkau sangat miskin pengetahuan?”
BAB VI. SYAHADAT PERSAKSIAN DIRI
Begitu kira-kira arti dari ucapan syahadat yang sering kita ucapkan. Syahadat ini datang dari contoh yang diberikan Nabi Muhammad s.a.w. karena beliau sudah ditentukan sebagai suri tauladan bagi manusia sampai akhir zaman.
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Dengan demikian pada saat Nabi Muhammad s.a.w. bersaksi, maka kita pun bersaksi dengan bunyi ucapan yang sama. Begitu pun dengan tujuan persaksian harus sama; Nabi Muhammad untuk dirinya dan kita untuk diri kita.
(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.
Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong.
Oleh karena itu yang kita tujukan untuk pribadi Nabi Muhammad s.a.w. bukanlah syahadat tetapi shalawat. Pada shalawat diperbolehkan memakai kata penghormatan shayidina karena tujuan shalawat adalah do’a dan penghormatan kita kepada Nabi.
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.
Ada bukti lain bahwa syahadat adalah persaksian diri yaitu pada saat ada orang yang menyebut nama Nabi Muhammad, maka dianjurkan pendengarnya meneruskan dengan kalimat do’a: shalallahu’alaihiwassalam, sedangkan untuk menjawab Adzan pada kalimat: Ashaduanamuhammadarasulullah; maka jawabannya adalah kalimat itu sendiri dan tidak dapat diganti dengan sebuah do’a dan penghormatan shalallahu’alaihiwassalam.
Ataukah kamu mengatakan bahwa Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?" Katakanlah: "Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?" Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.
Masih ada penegasan-penegasan di dalam Al Qur’an dan kemudian didukung oleh sebuah hadist riwayat, yaitu pada QS. Alam Nasyrah ayat 1-8:
Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?
Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? 1585)
Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu 1586) . Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain 1587) , dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
1315) Yang dimaksud dengan “beban” di sini adalah kesusahan-kesusahan yang diderita Nabi Muhammad s.a.w. dalam menyampaikan risalah.
1316) Meninggikan nama Nabi Muhammad s.a.w. di sini maksudnya adalah meninggikan derajat dan mengikutkan namanya dengan nama Allah dalam kalimat syahadat, menjadikan taat kepada Nabi termasuk taat kepada Allah dan lain-lain.
1317) Maksudnya: sebagian ahli tafsir menafsirkan apabila kamu (Muhammad) telah selesai berda’wah, maka beribadatlah kepada Allah; apabila telah selesai mengerjakan urusan dunia maka kerjakanlah urusan akhirat.
Pada catatan kaki 1316 di atas disebutkan meninggikan derajat dengan mengikut sertakan nama Muhammad dengan nama Allah dalam kalimat syahadat. Surat Alam Nasyrah ini menurut riwayat turunnya (asbabun nuzul) yang diriwatkan Ibnu Jarir yang bersumber dari al-Hasan, menyebutkan bahwa:
Rasulullah SAW. bersabda: "Bergembiralah kalian karena akan datang kemudahan bagi kalian. Kesusahan tidak akan mengalahkan dua kemudahan."
Maka dapat ditarik kesimpulan dari ayat ini bahwa dua kalimat syahadat adalah suatu persaksian diri yang menjadi kunci. Kemudian penegasan Rasulullah pada hadist riwayat itu menyebutnya sebagai dua kemudahan.
Dalam surat Alam Nasyrah, Allah s.w.t. menjelaskan perintah kepada Nabi Muhammad s.a.w selaku manusia sempurna, maka dalam surat At Tiin diterangkan bahwa manusia itu adalah makhluk Allah yang mempunyai kesanggupan baik lahir maupun batin. Kesanggupannya itu menjadi kenyataan bilamana mereka mengikuti jejak Nabi Muhammad s.a.w. termasuk dalam persaksian dirinya pada kalimat pertama untuk batin bersaksi tiada ilah kecuali Allah, dan persaksian kedua untuk jasmaninya pun adalah utusan-Nya. (RuhKu dan Jasadku utusan-Mu)
BAB V. MAKNA NUUR ’ALA NUURIN
Allah adalah Allah, tidak ada hakekat selain hakekat Allah dan hakekat Allah tidak dapat didefinisikan karena hanya Allah saja yang dapat mengetahui. Allah tidak dapat dijangkau oleh segala penglihatan yang dipunyai semua mahluk-mahluk-Nya.
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
Yang dimaksud dengan “segala penglihatan” adalah segala pengamatan apapun dan ilmu pengetahuan apapun, baik lahir maupun bathin kecuali dengan kehendak dan izin dari Allah.
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.
Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
5.2. Rabbil’alamin
Kita membicarakan perbedaan Rabb Semesta Alam atau Rabbil’alamin dengan Allah adalah untuk memahami interaksi kita dengan Cahaya Allah yang berlapis-lapis (Nuur A’la Nuurin).
Allah (Pemberi) cahaya (kepada) Langit dan Bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. (Nuur A’la Nuurin) cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa saja yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Kata Rabb banyak diartikan sebagai “Tuhan yang disembah”, padahal Rabb dapat juga ditujukan kepada manusia, seperti halnya contoh tersebut diatas dan seperti pada rabbulbayt yang berarti tuan rumah (tuhan rumah). Seperti juga Lord dalam bahasa Inggris atau Gusti dalam bahasa Sunda/Jawa, sering digunakan untuk seorang manusia yang menjadi raja atau untuk seorang majikan.
Sedangkan Rabb sembahan itu adalah Ilah; seperti pada Laa Ilaaha Ilallah, tiada yang patut disembah selain Allah; tiada sembahan selain Allah. Jadi kata Rabb/Tuhan untuk Allah langsung, harus mempunyai makna Ilah, seperti Rabbakumulladzi Kholaq (Rabb Yang Menciptakan Semua Mahluk).
Begitupun makna Rabbil’alamin (Penguasa Alam Semesta) sering langsung di tujukan kepada Allah. Padahal apabila kita melihat beberapa ayat di dalam Al Qur'an, makna Rabbil’alamin adalah wakil Allah yang tugaskan Allah dalam melaksanakan tugas pemeliharaan serta segala macam urusan di alam semesta ini.
Maka bagi Allah-lah segala puji, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan semesta alam.
Khusus dalam membahas Rabb dalam Rabbi’alamin ini, memerlukan pembahasan yang lebih mendalam lagi dan memerlukan kehati-hatian untuk menjaga iman itu sendiri terhadap Keesaan Allah. Tetapi apabila kita sudah dapat membuka hijab/tirai serta menginginkan suatu tambahan penjelasannya, kita dapat membaca beberapa referansi, salah satunya adalah kitab Misykatul Anwar Fi Tauhidil Jabbar (Tafsir Ayat-ayat Cahaya) dari Al Ghazali.
Untuk selanjutnya kita menyebut Rabbul’alamin hanya untuk komponen-komponen-Nya dalam melaksanakan tugas mengelola Alam yang sering kita temui dalam Al Qur'an dengan kata “Kami”.
Banyak sekali dapat kita perhatikan di dalam ayat-ayat Al Qur’an yang menyebutkan kata “Kami”. Sudah barang tentu kata “Kami” dalam Bahasa Indonesia adalah bentuk jamak. Sederhananya “Kami” ini dapat diartikan Allah dan Staf Kerajaan-Nya yaitu segala sesuatu yang berperan menjadi pembantu Allah, yaitu para Penguasa, para Malaikat Allah dan juga yang berada di Semesta Alam ini; sebagai perantara Allah dengan mahluk-mahluk-Nya. “Kami” adalah lapisan-lapisan Cahaya Allah sebagai tatanan kehidupan.
Di alam semesta ini ada tuhan-tuhan, ada penguasa-penguasa yang ditugaskan Allah. Tetapi penguasa-penguasa ini tidak untuk disembah (bukan ilah/bukan sembahan). Dan ini dapat kita lihat dalam firman Allah sebagai berikut:
Maka Aku bersumpah dengan Tuhan (Rabb) Yang Mengatur tempat terbit dan terbenamnya Matahari, Bulan, dan Bintang; sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa.
Firman di atas memperlihatkan makna “Kami” yaitu Rabb Yang Mengatur suatu urusan, dimana “Kami” adalah utusan-utusan Allah sebagai penguasa yang diberi kuasa oleh Allah. Disebutkan pula di dalamnya: “Maha Kuasa” karena dalam “Kami” ini ada mandat dari Allah sebagai pemberi tugas ( QS. Al An'aam [6]:61 ).
Perhatikan ayat di bawah ini; ada nama “Allah” kemudian ada kata “Kami” dan ada kata “kamu”. Ayat ini menggambarkan Kami adalah Kelembagaan Rabbul’alamin, diperintah Allah untuk menyampaikan perintah Allah kepada manusia.
Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
Demikian pula dalam menyampaikan Al Qur'an kepada manusia, yang mana hakekatnya Al Qur'an itu dari Allah dan izin Allah dengan melalui utusan-utusan-Nya di Lembaga Rabbul’alamin yaitu para Penguasa di alam semesta, para Malaikat Allah, kemudian utusan-utusan yang berupa manusia yaitu para Nabi dan Rasul Allah; sekalipun mereka telah tiada di alam dunia ini.
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup[2], tetapi kamu tidak menyadarinya.
5.3. Rabbul’alamin Tempat Bersyukur
Bukti bersyukur kepada Allah tidak cukup hanya mengatakan terima kasih saja karena Allah Maha Kaya tidak butuh syukur hamba-hambanya dan Allah Maha Mensyukuri. Interaksi manusia Kepada Allah itu harus melalui memurnikan ketaatan dengan bersyukur/berterimakasih, tunduk, patuh, hingga kepada bentuk interaksi tingkat tertinggi yaitu manusia menyembah berserah diri kepada Allah.
Dan Musa berkata: “Jika kamu dan orang-orang yang berada di muka bumi semuanya mengingkari (ni’mat Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.
Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina? Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim), sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.
Katakanlah (ya Muhammad): "Sesungguhnya aku dilarang menyembah sembahan yang kamu sembah selain Allah setelah datang kepadaku keterangan-keterangan dari Tuhanku; dan aku diperintahkan supaya tunduk patuh kepada Rabbil’alamin (Tuhan semesta alam).
Tanpa interaksi rasa syukur seorang manusia kepada Rabbul’alamin maka tatanan kehidupan dia sendiri akan hancur.
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari Langit dan Bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.
5.4. Tuhanmu, Tuhannya, Tuhan Mereka
Seperti halnya mengenal Rabbil’alamin, mengenal Tuhanmu, Tuhannya, dan Tuhan Mereka adalah untuk mengetahui interaksi kita dengan Cahaya-cahaya Allah yang berlapis-lapis.
Allah menciptakan jasad manusia melalui Rabbul’alamin atau dengan kata lain: jasad manusia diciptakan Allah dari sesuatu yang ada di Alam Semesta. Kita perhatikan bagaimana Allah menciptakan jasad Nabi Adam a.s. tanah serta menciptakan jasad anak cucunya melalui kedua orangtuanya, tersebut dalam ayat berikut:
Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).
Setelah proses penciptaan melalui perantaraan Rabbul’alain, kemudian dalam penyempurnaan penciptaan-Nya, Allah meniupkan langsung tanpa perantara yaitu Ruh-Nya.
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.
Ruh inilah kesempurnaan manusia, maka Ruh ini pula yang disebut cahaya Allah sebagai pusat di dalam tubuh manusia. Seperti difirmankan dalam QS. An Nuur [24]:35 bahwa Cahaya Allah berlapis lapis atau Nuur’ala Nuurin, maka lapisan cahaya Allah yang terdekat dengan diri kita adalah Ruh. Atau dapat pula dikatakan bahwa ada Wakil Allah di dalam diri kita.
Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)? Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah. Katakanlah: "Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu". Atau apakah kamu hendak memberitakan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi, atau kamu mengatakan (tentang hal itu) sekedar perkataan pada lahirnya saja. Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh setan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorang pun yang akan memberi petunjuk.
Ruh adalah satu-satunya kesempurnaan dalam diri manusia dan Ruh itu sendiri adalah bagian Cahaya Allah, sehingga Interaksi hamba dengan Sang Pencipta pun melalui Ruh.
Tuhanmu dalam ayat Al Qur'an yang mengandung kata sembahan dan kata Yang Menciptakan, maka kita dapat langsung mengerti bahwa itu hanya untuk Allah, seperti dalam ayat di bawah ini:
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.
Tuhanmu, Tuhannya, Tuhan Mereka dapat diartikan Ruh-Mu, Ruh-nya, Ruh Mereka atau “sebagian Cahaya Allah yang ada pada dirimu/dirinya/diri mereka tempat kamu/dirinya/diri mereka berinteraksi dengan Allah”.
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.
Kata “Tuhanmu” dalam suatu ayat dapat pula menandakan betapa dekatnya Allah dengan hamba-Nya. Kita perhatikan beberapa ayat di bawah ini:
Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat.
Sebagai contoh interaksi manusia dengan Allah adalah ketika Allah memberi Rahmat-Nya kepada manusia itu melalui tingkat cahaya-cahaya yang diteruskan kepada cahaya yang terendah, yang terdekat dengan manusia itu:
Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.
Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.
Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat (Nya) kepadamu; dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan), niscaya Kami kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka Jahanam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman.
Jelaslah bahwa Ruh manusia itu sesuai dengan sembahannya:
(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.
5.5. Pertemuan Manusia dengan Tuhannya, Ruhnya
Sangatlah merugi seandainya pertemuan hamba dengan Sang Pencipta hanya ketika ia diwafatkan, karena akan timbul penyesalan sedang ia tidak dapat kembali hidup. Tetapi apabila ia telah menemukan di saat masih hidup di dunia, maka masih ada kesempatan untuk memperbaiki hidupnya.
Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.
Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: "Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!", sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu.
Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.
(Yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka". Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.
Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami.
Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelimang di dalam kesesatan mereka.
Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: "Datangkanlah Al Qur'an yang lain dari ini atau gantilah dia". Katakanlah: "Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)".
Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.
Senantiasa bertasbih bagi manusia harus juga dibarengi dengan melakukan perbuatan amal kebaikan sebagai penebusan dosa-dosanya. Maka untuk itu diperlukan interaksi positif dari manusia kepada sesama :
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.
Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhan (Rabb)-lah mereka dihimpunkan.
Apabila manusia hanya bertaubat dengan melakukan shalat dan senantiasa berdzikir tanpa melakukan amal kebaikan sebagai penebusan dosanya, maka tentulah akan lebih mulia tumbuh-tumbuhan yang tidak pernah melakukan kesalahan dan selalu bertasbih sejak ia ada dan tumbuh. Dalam ayat-ayat Al Qur’an banyak disebutkan ‘tibangan kebaikan dan keburukan’. Kata ‘timbangan’ ini menunjukkan bahwa amal baik berlawanan dengan amal buruk yang tersimpan dalam dua sisi yang berlawanan seperti timbangan. Satu sisi nilainya turun bila sisi yang lainnya naik.
Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.
Maka untuk melakukan interaksi positif itu terlebih dahulu memperbaiki interaksi buruk yang lalu dan menjaga interaksi-interaksi kedepannya. Untuk menjaga interaksi ini dapat kita mulai dengan yang sederhana tetapi sangat berdampak mendasar, seperti berpaling dari perbuatan sia-sia, menjauhkan diri dari lingkungan yang memungkinkan kita terpengaruh buruk
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.
Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermamfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang yang jahil”.
Setelah kita berusaha berpaling dari hal-hal yang tidak bermanfaat, lalu meninggalkan yang buruk, maka selanjutnya mengajak jasad untuk beramal menurut kemampuan:
Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu Kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya.
Setelah beramal sebatas kemampuan kita, kemudian lakukan peningkatan beramal dengan amal yang lebih baik.
Dan dirikan shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapatnya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.
Dengan melakukan perbaikan, beramal saleh, dan meningkatkan amal saleh, kemudian menetapkan penjagaan agar istiqomah dalam beramal dengan sabar:
Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada sebagian permulaan dari malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapus (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.
5.6. Mencontoh Semesta Alam Mendapatkan Cahaya Allah
Seperti diwahyukan dalam QS. An Nuur [24]:35, bahwa Allah (Pemberi) cahaya kepada langit dan bumi. Allah memberikan cahaya-Nya karena senantiasa Rabbul’alamin ini tunduk patuh kepada Allah, bertasbih dan beribadah kepada Allah ( QS. Al Israa’ [17]:43 dan QS. An Nuur [24]:41 ).
Bersujud dan bertasbih seluruhnya yang ada di alam ini, tetapi ada pengecualian untuk manusia:
Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.
Dan apabila Kami memberikan ni’mat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdo’a.
Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina”.
Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan di waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nya-lah segala puji di Langit dan di Bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur.
( QS. Ar Ruum [30]:17-18 )
Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.
Maka bersabarlah kamu terhadap apa mereka (orang kafir) katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dan bertasbihlah kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang.
Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri dan bertasbihlah kepadaNya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar).
( QS. Ath Thuur [52]:48-49 )
Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.
Tatkala kita sedang mencari nafkah di siang hari pun Allah memerintahkan agar kita selalu ingat Allah, ingat yang banyak kepada Allah agar beruntung:
Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari ni’mat-Ku.
5.7. Interaksi dengan Konsep Ego Positif
Berinteraksi positif dengan melakukan Konsep Ego Positif yang dimaksud adalah suatu cara menyiasati diri kita dalam mempermudah suatu pemahaman pada pencarian cahaya dalam interaksi dengan Rabbul’alamin. Dimana konsepnya adalah ‘katakan pada diri kita, bahwa Allah hanya menciptakan satu manusia, yaitu diri kita sendiri’. Yang ada hanya Allah Sang Pencipta dan hamba-Nya diri kita sendiri. Sedangkan mahluk lain adalah mahluk yang diciptakan-Nya untuk menguji dan berinterasi dengan kita agar Allah dapat menilai sampai dimana tingkat keimanan kita.
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Pada saat berhadapan dengan mahluk manusia yang lebih tinggi derajatnya, kita diuji apakah kita tidak akan iri dengan keberadaan mereka? Apakah kita tetap mengatakan Allah Maha Adil? Apakah akan tetap bersyukur? Pada saat berhadapan dengan mahluk manusia yang lebih rendah derajatnya, kita diuji; apakah kita tidak akan sombong dengan keberadaan kita? Apakah kita akan menolong mahluk yang lebih rendah? Apakah kita akan bersyukur dengan keberadaan kita yang lebih dari mereka? Pada saat berhadapan mahluk manusia yang benci dengan kita; maka katakan pada diri kita, bahwa “dia” adalah mahluk ciptaan-Nya yang diutus Allah untuk menguji dengan kebencian terhadap kita, bagaimana kita berinteraksi dengan “dia”?
Dengan konsep Ego Positif ini, kita tidak akan pernah membenci siapapun juga sekalipun “dia membenci”, karena sudah kita anggap “mahluk yang diutus Allah untuk menguji keimanan kita”. Dan apabila kita perhatikan Hukum Qishaash dan hikmahnya pada QS. Al Baqarah [2]:178-179. Kita dapat membalas prilaku seseorang kepada kita, tetapi apabila kita membalas dengan kebajikan maka melepas hak Qishaash itu sebagai penebusan dosa bagi kita.
Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.
Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka (pun) ada Qishaash-nya. Barangsiapa yang melepas (hak qishaash) nya, maka melepas hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutus perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.
Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.
Membalas keburukan dengan kebaikan:
Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.
Membalas penghormatan dengan penghormatan yang lebih baik:
Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.
Membalas keburukan dengan kebaikan, membalas kebaikan dengan yang lebih baik, ini semua kebajikan. Kebajikan ini dijalankan karena semuanya akan kembali kepada diri kita sendiri.
( QS. Al Israa’ [17]:7 )
Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.
Apa saja ni’mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi Saksi.
Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
( QS. An Nisaa’ [4]:100 )
[2] Yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui begaimana keadaan hidup mereka itu.