al-Mawa’idz fil Ahadis al-Qudsiyyah, al-Ghazali

Pengantar

Suka, duka, nikmat, bencana, bahagia dan derita adalah suatu kenyataan dalam kehidupan. Tapi justru karena itulah kehidupan dunia ini beromantika. Rotasi roda kehidupan ini oleh Allah dijadikan sebagai alat untuk menguji tingkat stabilitas seseorang (QS. Al Anbiyaa' [21]:35). Congkakkah kita pada saat memperoleh nikmat? Goncangkah kita saat tertimpa bencana?Apakah kita kehilangan kendali saat berada di puncak keberhasilan dan tidak kehilangan harapan pada saat terpuruk dalam jurang kegagalan?

Dalam perspektif antropologi Qur’ani, manusia memiliki kejiwaan yang sangat labil, lemah, dan mudah sekali goyang (QS. Al Ma'aarij [70]:19-41). Ia mudah bersikap congkak ketika memperoleh sedikit kenikmatan dan mengeluh saat tertimpa sedikit bencana. Sehingga tidak jarang suatu kenikmatan bukan menjadi pembuka pintu kesadaran untuk bersyukur kepada Allah, tetapi justru menjadi congkak.

Faktor utama yang menimbulkan destabilisasi psikologis manusia menurut Allah adalah kerena keyakinan bahwa ”totalitas hidup dan apa yang dimilikinya adalah berpangkal dari Allah dan akan berpulang kepada Allah jua” telah tergoyahkan oleh kekuatan daya pikat dunia.

Peringatan dan nasihat memegang peranan penting untuk menstabilkan kembali kondisi psikologis seseorang yang terganggu oleh goncangan siklus kehidupan itu. Urgensi peringatan nampak sekali dari keseriusan Allah yang selalu mengingatkan kepada manusia agar senantiasa menyadari tentang hakikat kehidupan dunia ini, kesementaraan dunia dan kehidupan abadi di akhirat nanti.

Seorang mu’min sejati tidak akan pernah merasa kenyang dengan nasihat dan peringatan. Karena korelasi antara kesediaan seseorang untuk menerima nasihat dan peringatan erat sekali dengan intensitas dan kualitas amaliahnya serta stabilitas psikologisnya. Peringatan dan nasihat pun tidak hanya berperan sebagai pengendali tapi juga berperan dinamis sebagai pembangun motivasi dan optimisme.

Selain melalui Al Qur’an, peringatan pun Allah sampaikan melalui Hadist Qudsi. Intinya sama, yang berbeda hanya kemasan bahasa. Ini dapat dipahami karena Allah hendak mentransformasikan peringatan itu dengan berbagai cara, mengingat karekter manusia yang menjadi objek sangat beragam. Melalui hadist qudsi-Nya, Allah menyampaikan peringatan dengan wacana yang lebih lugas, mudah dicerna dan gaya bahasa yang sangat komunikatif.

Dengan bahasa yang lugas Allah mengingatkan bahwa kebanyakan manusia jika mau sadar sesungguhnya adalah masih buta hati. Setiap saat menikmati karunia Allah justru selalu berbuat durjana.

Sekalipun peringatan itu telah lugas disampaikan tetapi tidaklah menjadi jaminan akan dapat dicerna dan membuka kesadaran baru, karena semua sangat bergantung pada kondisi mentalitas si penerima; apakah memiliki hati yang keras atau tidak. Bisa saja mengerti maksud peringatan itu, namun hati tertutup untuk menerima, apalagi mengamalkan peringatan itu.

Secara keseluruhan kandungan hadist qudsi ini juga seolah-olah menyuruh manusia agar menjauh dari kehidupan duniawi. Padahal sesungguhnya tidaklah demikian maksudnya, karena dunia ini telah Allah ciptakan dan tetap harus diusahakan. Peringatan dalam hadist qudsi ini diarahkan pada orang-orang yang terjebak dalam perburuan harta-benda. Dengan peringatan ini kesadaran manusia akan timbul untuk kembali lagi pada keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat.

Semoga koleksi Hadist Qudsi al-Ghazali ini dapat menjadi pembuka pintu kesadaran dalam melakukan pertobatan dan tergugah untuk memperbaiki amal perbuatan.

Peringatan pertama

Allah berfirman:

“Wahai manusia! Aku heran pada manusia yang yakin akan kematian, tapi ia hidup bersuka ria. Aku heran pada manusia yang yakin akan pertanggungjawaban segala amal perbuatan di akhirat, tapi ia asyik mengumpulkan harta benda. Aku heran pada manusia yang yakin akan kubur, tapi ia tertawa terbahak-bahak.

Aku heran pada manusia yang yakin akan adanya alam akhirat, tapi ia menjalani kehidupan dengan bersantai-santai. Aku heran pada manusia yang yakin akan kehancuran dunia, tapi ia sangat menyukainya.

Aku heran pada manusia intelek yang bodoh dalam soal moral.
Aku heran pada manusia yang bersuci dengan air, sementara hatinya masih tetap kotor.

Aku heran pada manusia yang sibuk mencari aib orang lain, sementara ia tidak sadar akan cacat yang ada pada diri.
Aku heran pada manusia yang yakin bahwa Aku senantiasa mengawasi segala prilaku, tapi ia tetap berbuat durjana.

Aku heran pada manusia yang sadar akan kematian, kemudian akan tinggal di kubur seorang diri, lalu dimintai pertanggungjawaban seluruh perbuatannya, tapi berharap belas-kasih orang lain.
Sungguh tiada sembahan selain Aku dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Ku”.


Peringatan Kedua

Allah berfirman:

“Aku bersaksi bahwa tiada sembahan selain Aku. Tiada sekutu bagi-Ku. Dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Ku.

Barangsiapa tidak mau menerima suratan nasib yang telah Aku putuskan, tidak bersabar atas segala cobaan yang Aku berikan, tidak mau berterimakasih atas segala nikmat yang Aku curahkan, dan tidak mau menerima apa adanya atas segala yang Aku berikan, maka sembahlah tuhan selain Aku.

Barangsiapa yang susah karena urusan dunia, sama saja ia marah kepada-Ku. Barangsiapa mengadukan musibah yang menimpa dirinya (kepada orang lain), ia sungguh-sungguh berkeluh-kesah kepada-Ku

Barangsiapa menghadap kepada orang kaya dengan menundukkan diri karena kekayaannya, maka lenyaplah dua per tiga agama.
Barangsiapa menampar mukanya atas kematian seseorang, maka ia sama saja dengan mengambil sebuah tombak untuk memerangi Aku.

Barangsiapa memecah kayu di atas kubur, maka ia sama saja dengan merobohkan pintu Ka’bah-Ku.
Barangsiapa tidak peduli terhadap cara mendapatkan makanan, berarti ia tidak mempedulikan dari pintu mana Allah akan memasukannya ke dalam neraka jahanam.

Barangsiapa siapa tidak bertambah tingkat penghayatan keagamaannya, sungguh ia dalam keadaan selalu berkurang.
Barangsiapa yang terus-menerus dalam keadaan berkurang, kematian adalah jauh lebih baik baginya.

Barangsiapa mengamalkan ilmu yang ia ketahui, maka Allah akan menganugrahkan ilmu yang belum ia ketahui.
Barangsiapa yang angan-angannya membumbung tinggi, maka amal perbuatannya akan keruh.


Peringatan Ketiga

Allah berfirman:

“Wahai manusia! Terimalah anugrah yang Kuberikan dengan lapang dada, maka engkau tidak akan berharap pada pemberian orang lain. Tinggalkanlah rasa dengki, maka engkau terhindar dari kegelisahan hidup. Hindari perbuatan haram, maka engkau aman dari kerancuan dalam beragama.

Barangsiapa mampu menjaga diri dari membicarakan kejelekan orang lain, maka kecintaan-Ku akan Kuanugrahkan kepadanya. Barangsiapa mengisolasikan diri dari kerumunan orang, maka ia akan terhindar dari pengaruh jeleknya.

Barangsiapa mampu membatasi diri dari berbicara yang tidak ada gunanya, itu menandakan kematangan akalnya. Barangsiapa menerima dengan lapang dada atas pemberian Allah yang sedikit, maka ia penuh percaya kepada Allah.

Wahai manusia! Jika engkau tidak melaksanakan ilmu yang telah engkau ketahui, maka bagaimana mungkin engkau dapat mencari ilmu yang belum engkau ketahui.

Wahai manusia! Bekerjalah di dunia seakan engkau tidak akan mati esok. Kumpulkanlah harta seolah engkau akan hidup kekal di dunia.

Wahai dunia! Janganlah kau beri orang yang memburu dirimu. Carilah orang yang menghindar darimu. Jadilah kamu laksana manisan bagi mata orang yang memandangmu”.


Peringatan Keempat

Allah berfirman:

“Wahai manusia! Barangsiapa berduka karena persoalan dunia, maka ia hanya akan kian jauh dari Allah, kian nestapa di dunia dan semakin menderita di akhirat. Allah akan menjadikan hati orang tersebut dirundung duka selamanya, kebingungan yang tak berakhir, kepapaan yang berlarut-larut dan angan-angan yang selalu mengusik ketenangan hidupnya.

Wahai manusia! Hari demi hari usiamu kian berkurang, sementara engkau tidak pernah menyadarinya. Setiap hari Aku datangkan rejeki kepadamu, sementara engkau tidak pernah memuji-Ku. Dengan pemberian yang sedikit engkau tidak pernah mau lapang dada. Dengan pemberian yang banyak, engkau tidak juga merasa kenyang.

Wahai manusia! Setiap hari Aku mendatangkan rejeki untukmu, sementara setiap malam malaikat datang kepada-Ku dengan membawa catatan perbuatan jelekmu.

Engkau makan dengan lahap rejeki-Ku, namun engkau tak segan-segan pula berbuat durjana kepada-Ku. Aku kabulkan jika engkau memohon kepada-Ku. Kebaikan-Ku tak putus-putus mengalir untukmu, namun sebaliknya catatan keburukanmu sampai kepada-Ku tiada henti.

Akulah pelindung terbaik untukmu, sedangkan engkau hamba terjelek bagi-Ku. Kau raup segala apa yang Kuberikan untukmu. Kututupi kejelekan demi kejelekan yang telah kau perbuat secara terang-terangan. Aku sungguh sangat malu kepadamu, sementara engkau sedikit pun tak pernah merasa malu kepada-Ku.

Engkau melupakan diri-Ku dan mengingat yang lain. Kepada manusia engkau merasa takut, sedangkan kepada-Ku engkau merasa aman-aman saja. Kepada manusia engkau takut dimarahi, tetapi kepada murka-Ku engkau tak peduli”.



Peringatan Kelima

Allah berfirman:

“Wahai manusia! Jangan engkau menjadi orang yang terlambat dalam bertobat, membumbung angan-angan dan mengharap kenikmatan hidup di akhirat tanpa amal. Berkata seperti ahli ibadah, beramal seperti orang munafik. Jika diberi karunia tidak pernah mau menerima apa adanya. Jika tidak diberi tidak mau bersabar.

Mengajak berbuat baik pada orang lain tapi ia sendiri mengabaikannya. Mencegah orang lain agar tidak berbuat nista, sementara ia sendiri melakukannya. Mencintai orang yang suka berbuat baik, namun ia sendiri tidak masuk di dalamnya.

Membenci orang yang bersikap hipokrit, padahal ia termasuk di dalamnya. Mengatakan sesuatu yang tidak ia perbuat dan melakukan apa yang ia cegah. Menuntut orang lain memenuhi janji, namun ia sendiri mengkhianatinya.

Wahai manusia! Dalam setiap pergantian hari, sesungguhnya bumi selalu berkata kepadamu: Wahai manusia! Engkau berjalan di atas punggungku, kemudian jenazahmu ditaruh di dalam perutku. Engkau makan sesuka hatimu di atas punggungku dan setelah itu ulat-ulat memakan bangkaimu di dalam perutku.

Wahai manusia! Sungguh aku ini adalah sarang binatang buas, rumah saling menuntut, rumah tempat tinggal bersama, rumah kegelapan, sarang ular dan kalajengking. Maka hendaknya engkau membangun diriku, bukan justru memporak-porandakan diriku”.


Peringatan Keenam

Allah berfirman:

“Wahai manusia! Aku tidak menciptakanmu karena Aku menginginkan agar yang sedikit menjadi banyak karenamu, tidak karena Aku ingin menjadikan luluhnya binatang buas keranamu, tidak karena Aku ingin meminta pertolongan dalam urusan yang Aku tak mampu, tidak karena ingin menarik keuntungan bagi-Ku atau pula untuk menolak yang membahayakan bagi diri-Ku.

Aku menciptakanmu agar tiada henti menyembah-Ku, bersyukur sebanyak mungkin dan menyucikan-Ku pagi dan sore.

Wahai manusia! Andai manusia yang pertama dan paling akhir di antara kalian, seluruh jin dan manusia, baik tua maupun muda, baik yang merdeka maupun hamba sahaya berkumpul semua tunduk dan patuh kepada-Ku, setitik tepung pun tidak akan menambah kebesaran singgasana kekuasaan-Ku.

Barangsiapa berjihad di jalan Allah, sesungguhnya ia berjuang untuk kebaikan dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah tidak butuh sama sekali terhadap alam semesta.

Wahai manusia! Sebagaimana engkau menyakiti, engkau akan disakiti. Sebagaimana engkau berbuat, engkau akan diperlakukan”.


Peringatan Ketujuh

Allah berfirman:

“Wahai manusia! Wahai budak-budak uang! Aku menjadikan uang agar engkau dapat menikmati rejeki-Ku, mengenakan pakaian-Ku dan agar kalian semua membaca tasbih serta mensucikan diri-Ku. Tetapi ternyata kalian semua mengambil kitab suci-Ku, lalu engkau taruh di belakangmu dan engkau mengambil uang lalu engkau tempatkan di atas kepalamu.

Engkau agung-agungkan rumahmu dan kau remehkan rumah-Ku. Sungguh engkau bukanlah manusia-manusia pilihan, bukan orang-orang yang merdeka. Tapi engkau adalah budak-budak dunia.

Sekumpulan manusia semacam dirimu laksana sebuah kuburan yang dibangun dengan tembok. Sepintas jika dilihat dari luar nampak cantik molek, tapi di dalamnya jelek.

Begitu pula dengan sikapmu, sepintas kalian berbuat bajik, simpatik dan penuh kasih sayang pada orang lain dengan mulutmu yang manis dan perbuatanmu yang indah memikat. Namun itu pula engkau sesungguhnya hatimu keras dan kasar serta budi-pekertimu yang nista.

Wahai manusia! Bersihkan perbuatanmu dari noda, lalu mintalah kepada-Ku! Sungguh Aku akan memberi kepadamu lebih banyak lagi dari apa yang diminta oleh para peminta”.


Peringatan Kedelapan

Allah berfirman:

“Wahai manusia! Aku menciptakan kamu sekalian tidaklah main-main. Tidak pula tanpa tujuan. Sungguh Aku bukanlah pelupa. Aku sesungguhnya mengetahui seluruh gerak-gerikmu.

Engkau tidaklah akan memperoleh karunia-Ku kecuali dengan sabar atas segala apa yang tidak engkau sukai dalam mencari keridlaan-Ku.

Bagi kamu; sabar dalam patuh dan tunduk kepada-Ku lebih ringan daripada sabar dalam durhaka. Meninggalkan dosa jauh lebih ringan bagimu daripada pembebasan-Ku kepadamu dari panas api neraka. Siksa di dunia lebih ringan bagimu dibanding siksa di akhirat.

Wahai manusia! Kamu sekalian adalah orang yang sesat, kecuali yang Aku beri petunjuk. Kamu sekalian adalah orang yang melakukan perbuatan jelek, kecuali yang Aku lindungi.

Mintalah ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengasihimu. Janganlah kalian mengungkap rahasia kejelekanmu di hadapan Dzat Maha Mengetahui segala rahasia”.


Peringatan Kesembilan

Allah berfirman:

“Wahai manusia! Janganlah kamu mengutuk para mahluk, karena kutukanmu justru akan mencelakakan dirimu sendiri.

Wahai manusia! Langit tegak berdiri di angkasa hanya cukup dengan satu nama di antara nama-nama-Ku tanpa tiang penyangga, sementara hatimu tidak pernah bisa tegak lurus dengan seribu nasihat dari kitab-Ku.

Wahai manusia! Sebagaimana sebongkah batu yang tidak bisa luluh di dalam air, suatu nasihat tidak berpengaruh sama sekali pada hati yang keras.

Wahai manusia! Bagaimana engkau bisa menyatakan diri sebagai hamba Allah, sementara kamu berbuat durjana.

Bagaimana engkau bisa yakin akan kematian, sementara engkau membencinya. Dengan mulutmu engkau mengatakan sesuatu yang tidak engkau ketahui, engkau menganggapnya enteng, padahal di sisi Allah amatlah besar”.


Peringatan Kesepuluh

Allah berfirman:

“Wahai manusia! Telah datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu dan obat bagi hati. Lalu mengapa kamu tidak sudi berbuat baik, kecuali pada orang yang berbuat baik kepadamu, tidak mau menyambung tali silaturrahim kecuali pada orang yang mengunjungimu, tidak mau bercakap-cakap kecuali pada orang yang mau berbicara padamu, tidak mau memberi makan selain pada orang yang memberi makan kepadamu dan tidak mau menghormati selain pada orang yang menghormatimu?

Tak ada keutamaan bagi seorang yang merasa lebih utama daripada orang lain.

Seorang mukmin adalah orang yang beriman pada Allah dan Rasul-Nya, yang tetap berbuat baik terhadap orang yang melakukan keburukan kepadanya, menyambung tali silaturrahim pada orang yang memutus tali silaturrahim, mengampuni orang yang berbuat salah kepadanya, memenuhi janji pada orang yang mengkhianatinya, tetap mau bicara dengan orang yang tidak mau akur pada dirinya, tetap menghormati orang yang merendahkannya. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui pada semua perbuatanmu”.


Peringatan Kesebelas

Allah berfirman:

“Wahai manusia! Dunia ini sesungguhnya adalah tempat bagi orang tuna wisma dan harta bagi orang yang papa. Tempat berkumpul orang yang tidak waras. Karena dunia, orang-orang yang tidak mengerti bersuka-ria. Pada dunia orang-orang yang tidak berserah diri pada Tuhan memburu. Pada kesenangan hidup orang-orang yang tidak mengenal dunia berlomba-lomba.

Maka barangsiapa yang mendambakan kenikmatan yang semu dan hidup sementara, sesungguhnya ia telah berbuat aniaya pada dirinya dan durhaka pada Tuhannya. Ia melupakan kehidupan akhirat dan terpedaya oleh kemilau dunia.

Ia sesungguhnya menghendaki dosa yang nampak dan yang tidak nampak. “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat dosa akan dibalas sesuai dengan perbuatan yang merekan lakukan”.

Wahai manusia! Berdaganglah engkau kepada-Ku. Tapi rendahkanlah dalam memungut laba, karena di sisi-Ku ada imbalan yang tak mungkin dilihat mata, tak mungkin didengar telinga dan tak mungkin tergambar dalam benak seorang hamba.

Kekayaan-Ku tak akan pernah habis dan tak akan pernah berkurang. Aku adalah Sang Maha Pemberi lagi Maha Pemurah.


Peringatan Keduabelas

Allah berfirman:

“Wahai manusia! Ingatlah pada nikmat-Ku yang Kuberikan padamu. Penuhilah perjanjian yang kau ikat denganKu, Aku akan memenuhi janji yang Kuikat denganmu.

Hanya kepada-Ku engkau kembali. Sebagaimana tidak mungkin engkau dapat menemukan arah jalan tanpa petunjuk, maka demikian pula engkau tidak akan menemukan jalan ke surga kecuali dengan amal perbuatan. Sebagaimana harta yang tidak mungkin terkumpul tanpa jerih-payah, demikian pula engkau tidak akan masuk surga tanpa sabar dalam menghamba kepada-Ku.

Maka mendekatlah kepada Allah dengan ibadah sunnah. Carilah keridlaan-Ku dengan mencari keridlaan orang-orang miskin.

Carilah rahmat-Ku dengan menyertai pada ulama. Karena rahmat-Ku tak sekejap pun terpisah dari mereka”.

Allah berfirman:

“Wahai Musa! Dengarkanlah apa yang akan Kukatakan. Barangsiapa yang sombong pada orang miskin, sesungguhnya akan Aku kumpulkan di hari kiamat kelak dalam bentuk semut kecil. Barangsiapa yang mencoba membeberkan rahasia orang miskin, maka kelak di hari kiamat akan Aku kumpulkan dalam keadaan terbeber rahasianya. Barangsiapa merendahkan orang miskin, maka ia sungguh menantang perang dengan-Ku. Barangsiapa beriman kepada-Ku, malaikat akan menyalaminya di dunia dan akhirat.”


Peringatan Ketigabelas

Allah berfirman:

“Wahai manusia! Berapa banyak lampu yang padam oleh hembusan angin. Betapa banyak orang yang ahli ibadah celaka karena kesombongan dan pamer. Betapa banyak orang yang kaya celaka karena kekayaannya. Betapa banyak orang yang miskin celaka karena kefakirannya. Betapa banyak orang yang sehat celaka karena kesehatannya. Betapa banyak orang yang berilmu celaka karena keilmuannya. Betapa banyak orang yang bodoh celaka karena kebodohannya.

Andaikata tidak ada orang-orang tua yang selalu ruku’, pemuda-pemuda yang khusyu, anak-anak kecil yang menetek, dan binatang-binatang ternak yang berkeliaran mencari rerumputan, niscaya Aku akan merubah langit menjadi besi, bumi menjadi batu licin yang kering-kerontang dan debu menjadi kerikil. Setetes pun tidak akan pernah Kuturunkan air hujan dari langit. Tak sebutur biji pun akan Kutumbuhkan di bumi. Dan sesungguhnya akan Kucurahkan siksa kepadamu”.


Peringatan Keempatbelas

Allah berfirman:

“Wahai manusia! Carilah Aku dengan kadar kebutuhanmu kepada-Ku. Berbuat durhaka kepada-Ku menurut kadar kesabaranmu pada siksa api neraka.

Janganlah engkau pandang pada ajalmu yang masih tertunda, jangan pula engkau memandang pada rejekimu yang kau raih hari ini dan dosa-dosamu yang tersembunyi. Segala sesuatu akan hancur kecuali Dzat-Nya.

Di tangan-Nya kekuasaan untuk memutuskan tergenggam. Kepada-Nya pula engkau akan dipulangkan kembali”.


Peringatan Kelimabelas

Allah berfirman:

“Wahai manusia! Jika agamamu, dagingmu, dan darahmu baik, maka amal perbuatanmu, dagingmu, darahmu akan baik pula. Jika rusak agamamu, maka rusak pula amal perbuatanmu, dagingmu, dan darahmu.

Oleh karena itu janganlah engkau seperti lampu yang menerangi orang lain, namun membakar dirinya sendiri. Lemparkanlah jauh-jauh kecintaan pada dunia dari lubuk hatimu, karena Aku tidak mungkin selamanya akan mengumpulkan cinta pada dunia dan cinta pada-Ku dalam satu hati.

Berlakulah belas-kasih pada dirimu sendiri dalam mengumpulkan harta kekayaan, karena rejeki telah ditentukan bagiannya. Orang yang memburu harta kekayaan hanyalah akan menemui kegagalan.

Orang kikir akan tercela. Kenikmatan hanyalah sementara. Memikirkan sesuatu masalah sampai ke akar-akarnya adalah tercela. Ajalpun telah ditentukan. Kebenaran telah nyata. Sebaik-baiknya hikmah Allah adalah khusyu. Sebaik-baiknya kekayaan adalah menerima apa adanya. Sebaik-baiknya bekal adalah taqwa. Sebaik-baik apa yang datang pada hati adalah keyakinan dan sebaik-baik apa yang Aku berikan untukmu adalah kesehatan”.


Peringatan Keenambelas

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa engkau mengatakan sesuatu yang tidak engkau perbuat. Betapa banyak engkau berkata-kata dan betapa banyak pula engkau mengkhianatinya. Betapa banyak engkau mencegah orang lain agar tidak melakukan keji, padahal engkau sendiri melakukannya. Betapa banyak engkau memerintah pada orang lain untuk berbuat kebajikan, padahal engkau sendiri tidak melakukannya.

Betapa banyak engkau mengumpulkan harta-benda, padahal engkau tidak mungkin akan memakan semuanya.

Betapa banyak kesempatan taubat engkau tunda hari demi hari dan tahun demi tahun, tanpa mau merenungkan sama sekali; apakah engkau akan terhindar dari kematian?

Apakah engkau dapat lolos dari siksa api neraka? Ataukah engkau sangat yakin akan meraih kenikmatan surga? Apakah di antara engkau dan Sang Pengasih terdapat rahmat? Kenikmatan telah membuatmu angkuh dan sombong. Kebaikan telah menyebabkan engkau celaka.

Angan-angan yang membumbung tinggi telah menjadikan engkau terpikat oleh dunia. Engkau menyia-nyiakan kesehatan dan kesejahteraan, padahal hari-harimu jelas berlalu dan nafas-nafasmu telah ditentukan batasnya. Beramallah untuk kebaikanmu dengan apa yang tersisa dalam hidupmu

Wahai manusia! Sesungguhnya engkau tidak menghiraukan amal perbuatanmu, padahal setiap hari usiamu terus berkurang sejak engkau keluar dari perut ibumu. Hari demi hari engkau kian dekat pada kuburanmu hingga akhirnya engkau memasukinya.

Wahai manusia! Kehidupan di dunia laksana lalat. Ketika terjatuh ke dalam madu, maka ia lengket melekat. Karena itu janganlah engkau seperti kayu bakar yang membakar dirinya dengan api untuk yang lain”.


Peringatan Ketujuhbelas

Allah berfirman:

“Wahai manusia! Berbuatlah sebagaimana Aku memerintahkan kepadamu. Hindarilah perbuatan yang Aku larang, maka Aku akan menjadikan engkau hidup selamanya. Aku adalah Dzat yang hidup, tidak akan pernah mati selamanya. Apabila Aku mengatakan pada sesuatu: “Jadilah engkau”, maka sesuatu itu akan jadi.

Wahai manusia! Jika perkataanmu indah menawan, sementara perbuatanmu buruk, maka engkau adalah gembong orang-orang munafik. Jika lahirmu indah menawan, sedangkan batinmu buruk, maka engkau termasuk orang celaka, yaitu orang yang menipu Allah, padahal justru Allah yang menipu mereka. Tiadalah mereka menipu kecuali pada dirinya sendiri, hanya saja mereka tidak menyadari.

Wahai manusia! Tidaklah akan masuk surga kecuali orang yang merundukkan diri pada keagungan-Ku, mengisi seluruh hari-harinya dengan mengingat-Ku dan menahan hawa nafsunya demi Aku.

Aku yang memberi tempat tinggal pada pelancong, yang memberikan rasa aman pada orang fakir, yang menyantuni anak yatim laksana seorang ayah yang penuh kasih sayang, dan yang menyantuni para janda sebagaimana seorang suami yang mencintai dan menyayanginya.

Barangsiapa berkepribadian dengan sifat-sifat ini, jika ia memohon kepadaku, Aku akan mengabulkan segala permohonannya. Dan jika ia meminta sesuatu kepada-Ku, maka Aku akan memberi segala apa yang dia minta”.


Peringatan kedelapanbelas

Allah berfirman:

“Kepada siapakah engkau akan mengadukan diri-Ku, padahal tak ada satupun yang menyamai diri-Ku sebagai tempat pengaduanmu?

Sampai kapankah engkau akan melupakan diri-Ku, padahal sama sekali Aku tak menuntut apa-apa darimu?

Sampai kapankah engkau kufur kepadaKu, padahal Aku tidak pernah berbuat aniaya pada para hamba? Sampai kapankah engkau meremehkan kitab-Ku, padahal Aku tidak pernah memberi beban kewajiban yang melebihi kemampuanmu. Sampai kapankah engkau menentang kepada-Ku? Sampai kapan pula engkau membangkang kepada-Ku, padahal tidak ada sembahan selain Aku?

Bila engkau sakit, dokter yang manakah selain diri-Ku yang mampu menyembuhkanmu? Engkau mengadukan kesusahanmu kepada-Ku, namun engkau tidak mau menerima surat takdir-Ku.

Akulah yan mengirim air hujan yang lebat. Lalu engkau katakan; kita dihujani oleh bintang ini. Sungguh engkau telah kufur kepada-Ku dan beriman pada bintang.
Akulah yang menurunkan rahmat-Ku dalam berbagai ukuran. Apabila engkau memperoleh makanan untuk tiga hari, engkau berkata; Aku dalam keadaan sial, tidak dalam keadaan mujur.

Maka sungguh engkau telah mengingkari nikmat-Ku. Barangsiapa membangkang untuk mengeluarkan zakat dari sebagian harta kekayaannya, sesungguhnya ia meremehkan kitab-Ku. Apabila ia menemui waktu shalat, tapi ia tidak menunaikannya, maka ia sungguh-sungguh melupakan diri-Ku”.


Peringatan Kesembilanbelas

Allah berfirman:

“Wahai manusia! Bersabarlah dan merunduklah, maka Aku akan mengangkat derajatmu. Bersyukurlah kepada-Ku, Aku akan menambah nikmat-Ku. Mohon ampunlah kepada-Ku, Aku akan mengampunimu.

Bila engkau berdo’a pada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Bertobatlah pada-Ku, Aku akan memberikan pertobatan padamu. Mintalah pada-Ku, Aku akan memberi apa yang engkau minta. Bersedekahlah, Aku akan memberi keberkahan dalam rejekimu. Sambunglah tali persaudaraan, Aku akan menambah usiamu. Mintalah dari-Ku kesehatan dengan kesehatan yang langgeng, kesejahteraan dalam keguyuban, ikhlas dalam mengharap ridla, wara’ dalam pertaubatan dan berkecukupan dalam menerima apa adanya atas karunia ilahi.

Wahai manusia! Bagaimana mungkin engkau berharap akan tekun beribadah sementara perutmu dalam kekenyangan? Bagaimana mungkin engkau akan cinta pada Allah, sementara engkau cinta pada harta? Bagaimana mungkin engkau akan takut pada Allah, sementara engkau takut pada kefakiran? Bagaimana mungkin engkau akan menjalankan hukum Allah dengan sangat konsisten, sementara engkau masih tergila-gila memburu harta?

Bagaimana mungkin engkau akan meraih keridlaan Allah tanpa keridlaan orang-orang miskin? Bagaimana mungkin engkau akan dapat hidup dalam damai, sementara engkau memupuk sifat kikir? Bagaimana mungkin engkau mendambakan hidup di surga kelak, sementara engkau gandrung pada dunia dan sanjungannya?

Bagaimana mungkin engkau berharap akan meraih kebahagiaan hidup dalam keadaan engkau sangat miskin pengetahuan?”