3.1. Pengetahuan hanya dari Allah
Sebelum kita berlanjut membicarakan lebih jauh tentang mengenal diri ini, ada baiknya kita ketahui bahwa semua pengetahuan yang hakiki hanya ada pada sisi Allah. Apalagi kita akan membicarakan permasalahan ruh, karena sangat sedikit sekali manusia mengetahuinya.
Sebelum kita berlanjut membicarakan lebih jauh tentang mengenal diri ini, ada baiknya kita ketahui bahwa semua pengetahuan yang hakiki hanya ada pada sisi Allah. Apalagi kita akan membicarakan permasalahan ruh, karena sangat sedikit sekali manusia mengetahuinya.
Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
( QS. Al Israa' [17]:85 )
Tetapi Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk mengetahui, apalagi untuk alasan agar manusia lebih mengenal-Nya serta lebih beriman kepada-Nya. Seperti dikisahkan Hadist Qudsi pada riwayat Nabi Daud a.s.:
Tatkala ia (Daud a.s.) datang bersujud seraya bertanya: “Ya Tuhanku, apa alasan Engkau menciptakan mahluk?” Maka Allah menjawab: “Aku adalah Perbendaharaan Yang Tersembunyi, padahal Aku sangat ingin dikenal. Oleh karena itu Aku ciptakan mahluk supaya mengenal-Ku”
Alasan lain manusia diberikan kesempatan untuk lebih mendalam pengetahuannya tentang sesuatu yang ada dibalik tirai hijab adalah pada QS. Ar Rahmaan [55]:33, yaitu:
Hai jemaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.
( QS. Ar Rahmaan [55]:33 )
Kekuatan yang dimaksud adalah pengetahuan, sedangkan pengetahuan yang hakiki tentang kebenaran hanya ada pada sisi Allah. Maka dengan bertaubat dan memurnikan ketaatan kepada Allah sajalah semoga Allah membuka tirai hijab dan menurunkan hikmah ilmu pengetahuan sehingga kita dapat memperoleh dan menambah ilmu dari-Nya.
Dan (dia Huud berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa."
( QS. Huud [11]:52 )
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur'an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.
( QS. Az Zumar [39]:2 )
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur'an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.
( QS. Az Zumar [39]:2 )
3.2. Niat yang kuat menuju Fitrah
Dalam Metoda Tafakur Dengan Hati Suci Kepada Allah ini harus diawali inisiatif dari diri kita sendiri yaitu dengan mempunyai ketulusan dan berketetapan hati yang kuat untuk kembali kepada fitrah Allah.
Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.
( QS. Faathir [35]:15 )
Ketulusan dan ketetapan hati ini ditandai dengan bertaubat dari segala kesalahan diri dan mengadakan perbaikan. Insya Allah, Allah akan memberikan jalan kepada orang yang dikehendak-Nya.
Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
( QS. Asy Syams [91]:1-10 )
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
( QS. Al Baqarah [2]:159-160 )
3.3. Akal Hati Sebagai Perangkat tafakur
Tafakur menuju Allah memerlukan ketelitian dan kecerdasan. Sebelum kita sampai pada taraf tafakur, ada baiknya kita mengenal dan meyakini perangkat tafakur yang utama, yaitu akal hati. Yang dimaksud akal hati itu sendiri adalah salah satu komponen cahaya hati sebagai kesempurnaan manusia.
3.3.1. Pengertian Umum Cahaya
Pengertian umum cahaya (Nur) adalah yang menunjuk kepada suatu yang menjadikan benda nampak, seperti cahaya matahari. Bulan bercahaya karena ada matahari, sehingga cahaya bulan sebenarnya adalah cahaya matahari yang memantul. Nampaknya sesuatu tentunya tergantung dari cahaya yang tercerap, sedang daya cerap yang paling umum dikenal adalah indera penglihatan (mata). Dengan demikian yang berlaku bagi umum bahwa daya cerap cahaya adalah daya tangkap indera manusiawi.
Tafakur menuju Allah memerlukan ketelitian dan kecerdasan. Sebelum kita sampai pada taraf tafakur, ada baiknya kita mengenal dan meyakini perangkat tafakur yang utama, yaitu akal hati. Yang dimaksud akal hati itu sendiri adalah salah satu komponen cahaya hati sebagai kesempurnaan manusia.
3.3.1. Pengertian Umum Cahaya
Pengertian umum cahaya (Nur) adalah yang menunjuk kepada suatu yang menjadikan benda nampak, seperti cahaya matahari. Bulan bercahaya karena ada matahari, sehingga cahaya bulan sebenarnya adalah cahaya matahari yang memantul. Nampaknya sesuatu tentunya tergantung dari cahaya yang tercerap, sedang daya cerap yang paling umum dikenal adalah indera penglihatan (mata). Dengan demikian yang berlaku bagi umum bahwa daya cerap cahaya adalah daya tangkap indera manusiawi.
3.3.2. Pengertian Khusus Cahaya
Menurut kalangan khusus (Khawasul Khawas), istilah cahaya lebih tepat dipakai untuk “cahaya yang dapat memberikan daya penglihatan”. Seperti halnya menggunakan kata “cahaya” untuk mengatakan “orang rabun cahaya penglihatannya lemah”. Cahaya yang bersinar tidak memiliki daya serap dan tidak mewujudkan pencerapan cahaya, tapi ia hanya menyimpan pencerapan cahaya. Maka oleh sebab itu mata yang melihat yang relatif lebih pantas disebut “cahaya” dibandingkan cahaya yang memancar.
3.3.3. Mata Lahiriah dan Mata Hati
Cahaya mata lahir mempunyai banyak kelemahan. Ia dapat melihat benda-benda lain, tetapi tidak dapat melihat mata itu sendiri. Ia tidak dapat melihat benda yang sangat jauh atau yang terlalu dekat darinya. Juga ia tidak dapat melihat sesuatu yang berada di balik hijab/tirai penghalang.
Di dalam diri manusia terdapat mata yang memiliki sifat sempurna yang tidak memiliki kekurangan seperti mata inderawi, yaitu ruh yang mempunyai mata hati, akal, naluri. Mata hati atau naluri ini adalah suatu kesempurnaan penglihatan.
Mata lahir relatif lebih pantas disebut cahaya dibandingkan cahaya yang memancar, tetapi apabila dibandingkan dengan akal, maka akal akan lebih pantas kedudukannya disebut sebagai “cahaya”. Karena mata lahir hanya salah satu media yang ditugaskan akal untuk memberikan informasi bentuk dan warna kepada akal.
Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.
( QS. As Sajdah [32]:7-9 )
Yang dimaksud “kamu sedikit sekali bersyukur” adalah selain syukur dalam pengertian ibadah syariat agama, dapat juga diartikan ibadah dalam penggunaan fungsi ruh yang belum maksimal. Manusia kebanyakan hanya menggunakan sebagian fungsi komponen ruh, seperti berjalan, makan, minum, bicara, dan gerak persendian lainnya. Sehingga ada teguran Allah bagi manusia yaitu:
Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.
( QS. Al Hajj [22]:46 )
Akal dapat melihat dirinya sendiri, mengerti ilmu yang dimilikinya dan ilmu tentang dirinya, serta mengenal hakikat keberadaannya. Ia dalam sekejap mampu naik ke langit yang paling tinggi, dan di saat yang hampir bersamaan, ia dapat turun kembali ke bumi.
Akal dapat bergerak bebas bahkan bisa bergerak di balik hijab, di sekitar alam yang tinggi dan alam malakut, bahkan dapat bergerak di sekitar singgasana Ilahi (‘Arsy). Tidak ada lagi hakikat yang tersembunyi bagi akal, sementara hijab itu berlaku jika akal menutup dirinya sendiri seperti mata lahir menutup pelupuknya.
Akal dapat bergerak bebas bahkan bisa bergerak di balik hijab, di sekitar alam yang tinggi dan alam malakut, bahkan dapat bergerak di sekitar singgasana Ilahi (‘Arsy). Tidak ada lagi hakikat yang tersembunyi bagi akal, sementara hijab itu berlaku jika akal menutup dirinya sendiri seperti mata lahir menutup pelupuknya.
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
( QS. Al A'raaf [7]:179 )
Akal yang fitrah atau naluri fitrah dari Allah adalah suara hati yang paling jernih dan tidak pernah membohongi, yang tak dapat ditipu oleh siapapun juga termasuk diri kita. Naluri fitrah menyingkap kebenaran sejati yang sering tersembunyi di tengah kehidupan yang serba palsu dan menipu.
3.4. Al Qur’an adalah Cahaya yang Menyinari Akal
Banyak kesalahan mata yang kesalahan itu relatif dapat dihindari oleh akal. Seandainya manusia berakal masih mengalami kesalahan, sebenarnya kesalahan itu ada dari prasangka dan kepercayaan yang keliru, kemudian mereka mendasarkan pada penilaian akal. Apabila akal ditaruh pada posisi yang benar dan jauh dari kekeliruan prasangka dan khayalan, maka akal tidak akan bersalah. Ia akan kembali pada fitrahnya dengan melihat segala sesuatu secara proporsional dan objektif.
Kita sadari bersama bahwa sepenuhnya terhindar dari kesalahan adalah merupakan sesuatu yang sangat sulit bagi akal. Kelak kesalahan mutlak dapat dihindari apabila sudah terbukanya semua rahasia.
3.4. Al Qur’an adalah Cahaya yang Menyinari Akal
Banyak kesalahan mata yang kesalahan itu relatif dapat dihindari oleh akal. Seandainya manusia berakal masih mengalami kesalahan, sebenarnya kesalahan itu ada dari prasangka dan kepercayaan yang keliru, kemudian mereka mendasarkan pada penilaian akal. Apabila akal ditaruh pada posisi yang benar dan jauh dari kekeliruan prasangka dan khayalan, maka akal tidak akan bersalah. Ia akan kembali pada fitrahnya dengan melihat segala sesuatu secara proporsional dan objektif.
Kita sadari bersama bahwa sepenuhnya terhindar dari kesalahan adalah merupakan sesuatu yang sangat sulit bagi akal. Kelak kesalahan mutlak dapat dihindari apabila sudah terbukanya semua rahasia.
Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.
( QS. Qaaf [50]:22 )
Setiap pribadi mendapati kebaikan dan keburukannya dahulu di depan mata tanpa hijab. Hijab disini adalah hijab khayal dan prasangka yang semu. Apakah kita akan yakin nanti pada saat sudah tidak dapat kembali lagi ke dunia?
Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin".
( QS. As Sajdah [32]:12 )
Sekalipun akal memiliki daya lihat, bukan berarti apa yang dilihatnya memiliki derajat sama. Sehingga akal perlu digerakkan, dirangsang, dan diberi perhatian. Ketika manusia mendapat pancaran cahaya hikmah, dia dapat melihat sesuatu secara otomatis karena kehendak-Nya, yang sebelumnya hanya dapat melihat karena terpaksa. Dan hikmah yang paling utama adalah Kalamullah Swt, yang di antaranya adalah Al Qur'an. Firman Allah adalah cahaya bagi akal, dan akal adalah cahaya bagi mata.
Oleh karena itu Allah menurunkan petunjuk-petunjuk-Nya untuk manusia agar manusia itu selamat di dunia dan di akhiratnya. Kedudukan Al Qur’an di mata akal adalah sama seperti kedudukan matahari bagi mata lahiriah, sebab hanya dengan itu akan sempurnalah penglihatan. Dengan itu pula Al Qur’an pantas untuk menyandang nama cahaya.
Oleh karena itu Allah menurunkan petunjuk-petunjuk-Nya untuk manusia agar manusia itu selamat di dunia dan di akhiratnya. Kedudukan Al Qur’an di mata akal adalah sama seperti kedudukan matahari bagi mata lahiriah, sebab hanya dengan itu akan sempurnalah penglihatan. Dengan itu pula Al Qur’an pantas untuk menyandang nama cahaya.
Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al Qur'an) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
( QS. At Taghaabun [64]:8 )
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur'an).
( QS. An Nisaa’ [4]:174 )
3.5. Alam Syahadah dan Alam Malakut
Sudah kita ketahui bahwa ada dua macam mata, mata inderawi dan mata hati/bathin. Mata inderawi adalah mata lahir yang jangkauannya adalah alam al-his wa al-musyahadah (alam yang bisa dirasa atau alam kasat mata). Sementara mata hati jangkauannya dapat menembus alam malakut (alam malaikat).
Kedua alam ini masing-masing memiliki “matahari” dan “cahaya”. Cahaya alam kasat mata adalah matahari, sedangkan cahaya mata hati yang jangkauannya mencapai alam malakut adalah Al Qur'an dan Kitab-kitab Allah sebelumnya.
Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit jua pun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya.
( QS. Al Ahqaaf [46]:26 )
Apabila permasalahan di atas telah ditangkap dengan baik, maka telah terbuka bagi kita pintu-pintu alam malakut yang di dalamnya menyimpan keajaiban-keajaiban. Alam malakut bagai isi buah dan alam kasat mata bagai kulitnya. Alam malakut adalah alam tinggi, alam ruhani, atau disebut juga alam cahaya. Sedangkan alam kasat mata adalah alam rendah atau alam jasmani.
Alam malakut disebut dengan alam tinggi adalah berbeda dengan alam atas atau langit, walaupun langit itu tinggi dan tempatnya di atas bila dilihat oleh mata inderawi. Bagi manusia yang sudah terbuka baginya pintu alam malakut, semua benda yang dapat dilihat, dirasa, dan dikhayalkan olehnya tidak lagi berupa benda seperti halnya yang ada di alam kasat mata, tapi berupa perumpamaan-perumpamaan untuk mengetahui hakekatnya.
Misalnya dalam mentafakuri arti “bumi” pada suatu ayat itu dapat diartikan “jasad”. Pohon dapat diartikan kehidupan, pelita diartikan petunjuk jalan kehidupan, penerang jalan kehidupan. Dengan demikian; alam syahadah (alam kasat mata) dijadikan contoh perumpamaan bagi alam malakut. Sesuatu yang bersumber dari sesuatu yang lain adalah mempunyai kemiripan dengan aslinya sedikit atau pun banyak. Sesungguhnya yang dapat menyingkap hakikat niscaya akan mudah menyingkap perumpamaan yang ada dalam Al Qur'an.
Alam malakut disebut dengan alam tinggi adalah berbeda dengan alam atas atau langit, walaupun langit itu tinggi dan tempatnya di atas bila dilihat oleh mata inderawi. Bagi manusia yang sudah terbuka baginya pintu alam malakut, semua benda yang dapat dilihat, dirasa, dan dikhayalkan olehnya tidak lagi berupa benda seperti halnya yang ada di alam kasat mata, tapi berupa perumpamaan-perumpamaan untuk mengetahui hakekatnya.
Misalnya dalam mentafakuri arti “bumi” pada suatu ayat itu dapat diartikan “jasad”. Pohon dapat diartikan kehidupan, pelita diartikan petunjuk jalan kehidupan, penerang jalan kehidupan. Dengan demikian; alam syahadah (alam kasat mata) dijadikan contoh perumpamaan bagi alam malakut. Sesuatu yang bersumber dari sesuatu yang lain adalah mempunyai kemiripan dengan aslinya sedikit atau pun banyak. Sesungguhnya yang dapat menyingkap hakikat niscaya akan mudah menyingkap perumpamaan yang ada dalam Al Qur'an.
Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.
( QS. Al Hasyr [59]:21 )
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.
( QS. Ibrahim [14]:24-25 )
Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.
Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.
( QS. Ibrahim [14]:26-27 )
3.5. Proyeksikan Ayat Al Qur'an Dengan Ke Dalam Diri
Setelah menggunakan akal kemudian proyeksikan isi ayat pada jasad kita sebagai Alam Semesta Micro dan sebagai bagian dari Alam Semesta Macro. Memproyeksikan setiap ayat ke dalam diri kita ini seperti contoh dibawah ini:
Setelah menggunakan akal kemudian proyeksikan isi ayat pada jasad kita sebagai Alam Semesta Micro dan sebagai bagian dari Alam Semesta Macro. Memproyeksikan setiap ayat ke dalam diri kita ini seperti contoh dibawah ini:
Berkata Fir’aun: “Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa?”.
( QS. Thaahaa [20]:57 )
Dalam ayat tersebut tidak dijadikan cerita saja, tetapi dipantulkan ke dalam diri; bahwa Fir’aun adalah sel-sel kafir dalam tubuh yang harus diusir dengan Cahaya Allah. Nabi Musa dalam hal ini mewakili Cahaya Allah. Apabila Al Qur’an ini dibaca hanya sekedar untuk dongengan saja maka ada peringatan Allah, yaitu:
Dan orang-orang kafir berkata: “Al Qur’an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan dusta yang besar. Dan mereka berkata: “Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang”. Katakanlah: “Al Qur’an itu diturunkan oleh Allah Yang Mengetahui Rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
( QS. Al Furqaan [25]:4-6)
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita-cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita-cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.
( QS. Yusuf [12]:111 )
Contoh pada ayat lain:
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.
( QS, Ali ‘Imran [3]:100 )
Dalam ayat ini sebagai tafsiran macro ‘ahli kitab’ (orang-orang yang diberi Al Kitab) adalah orang Yahudi dan Nasrani. Tetapi dalam mengenal diri; ‘Ahli Kitab’ ini adalah sel-sel otak kita, pikiran kita yang selalu ingin mendahului hati.
Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman ilmu Al Qur’an yang dalam) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).
( QS. Al Baqarah [2]:269 )
Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semua itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.
( QS. Ali Imran [3]:7 )
Mari kita tafakur dengan mempergunakan akal naluri fitrah ini, karena Al Qur'an diibaratkan intan yang bersudut banyak yang memerlukan kecerdasan hati untuk memahaminya. Kita pahami bersama dengan perlahan agar kedalamannya dapat diselami.
Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”.
( QS. Thaahaa [20]:114)