BAB V. MAKNA NUUR ’ALA NUURIN

5.1. Allah

Allah adalah Allah, tidak ada hakekat selain hakekat Allah dan hakekat Allah tidak dapat didefinisikan karena hanya Allah saja yang dapat mengetahui. Allah tidak dapat dijangkau oleh segala penglihatan yang dipunyai semua mahluk-mahluk-Nya.

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
( QS. Al An'aam [6]:103 )

Yang dimaksud dengan “segala penglihatan” adalah segala pengamatan apapun dan ilmu pengetahuan apapun, baik lahir maupun bathin kecuali dengan kehendak dan izin dari Allah.

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
( QS. Al Hadiid [57]:3)
Dan Dialah Allah (Yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.
( QS. Al An'aam [6]:3 )

Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.
( QS. Al An'aam [6]:61 )

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
( QS. Al Maa-idah [5]:120 )


5.2. Rabbil’alamin

Kita membicarakan perbedaan Rabb Semesta Alam atau Rabbil’alamin dengan Allah adalah untuk memahami interaksi kita dengan Cahaya Allah yang berlapis-lapis (Nuur A’la Nuurin).

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) Langit dan Bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. (Nuur A’la Nuurin) cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa saja yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
( QS. An Nuur [24]:35 )

Kata Rabb yang berarti “penguasa”, “tuhan”, atau “tuan” pada hakekatnya adalah kepunyaan Allah. Tetapi secara Rubudiyah, makna Rabb dapat digunakan untuk selain Allah; dalam arti Allah memberikan kuasa-Nya kepada hamba-Nya untuk menguasai sesuatu. Misalnya; apabila kita memiliki sebuah tiket pertunjukan yang bernomor kursi, pada saat pertunjukan berlangsung kursi tersebut adalah milik kita. Tetapi ketika pertunjukan telah usai maka penguasaan kursi itu sudah bukan milik kita lagi, kepemilikannya kembali kepada yang empunya gedung. Dan apabila dikembalikan kepada hakekat yang tertinggi, maka kursi, gedung itupun adalah milik Allah.

Kata Rabb banyak diartikan sebagai “Tuhan yang disembah”, padahal Rabb dapat juga ditujukan kepada manusia, seperti halnya contoh tersebut diatas dan seperti pada rabbulbayt yang berarti tuan rumah (tuhan rumah). Seperti juga Lord dalam bahasa Inggris atau Gusti dalam bahasa Sunda/Jawa, sering digunakan untuk seorang manusia yang menjadi raja atau untuk seorang majikan.

Sedangkan Rabb sembahan itu adalah Ilah; seperti pada Laa Ilaaha Ilallah, tiada yang patut disembah selain Allah; tiada sembahan selain Allah. Jadi kata Rabb/Tuhan untuk Allah langsung, harus mempunyai makna Ilah, seperti Rabbakumulladzi Kholaq (Rabb Yang Menciptakan Semua Mahluk).

Begitupun makna Rabbil’alamin (Penguasa Alam Semesta) sering langsung di tujukan kepada Allah. Padahal apabila kita melihat beberapa ayat di dalam Al Qur'an, makna Rabbil’alamin adalah wakil Allah yang tugaskan Allah dalam melaksanakan tugas pemeliharaan serta segala macam urusan di alam semesta ini.

Maka bagi Allah-lah segala puji, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan semesta alam.
( QS. Al Jaatsiyah [45]:36 )

Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.
( QS. Al An'aam [6]:61 )

Khusus dalam membahas Rabb dalam Rabbi’alamin ini, memerlukan pembahasan yang lebih mendalam lagi dan memerlukan kehati-hatian untuk menjaga iman itu sendiri terhadap Keesaan Allah. Tetapi apabila kita sudah dapat membuka hijab/tirai serta menginginkan suatu tambahan penjelasannya, kita dapat membaca beberapa referansi, salah satunya adalah kitab Misykatul Anwar Fi Tauhidil Jabbar (Tafsir Ayat-ayat Cahaya) dari Al Ghazali.

Untuk selanjutnya kita menyebut Rabbul’alamin hanya untuk komponen-komponen-Nya dalam melaksanakan tugas mengelola Alam yang sering kita temui dalam Al Qur'an dengan kata “Kami”.

Banyak sekali dapat kita perhatikan di dalam ayat-ayat Al Qur’an yang menyebutkan kata “Kami”. Sudah barang tentu kata “Kami” dalam Bahasa Indonesia adalah bentuk jamak. Sederhananya “Kami” ini dapat diartikan Allah dan Staf Kerajaan-Nya yaitu segala sesuatu yang berperan menjadi pembantu Allah, yaitu para Penguasa, para Malaikat Allah dan juga yang berada di Semesta Alam ini; sebagai perantara Allah dengan mahluk-mahluk-Nya. “Kami” adalah lapisan-lapisan Cahaya Allah sebagai tatanan kehidupan.

Di alam semesta ini ada tuhan-tuhan, ada penguasa-penguasa yang ditugaskan Allah. Tetapi penguasa-penguasa ini tidak untuk disembah (bukan ilah/bukan sembahan). Dan ini dapat kita lihat dalam firman Allah sebagai berikut:

Maka Aku bersumpah dengan Tuhan (Rabb) Yang Mengatur tempat terbit dan terbenamnya Matahari, Bulan, dan Bintang; sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa.
( QS. Al Mariij [70]:40 )

Firman di atas memperlihatkan makna “Kami” yaitu Rabb Yang Mengatur suatu urusan, dimana “Kami” adalah utusan-utusan Allah sebagai penguasa yang diberi kuasa oleh Allah. Disebutkan pula di dalamnya: “Maha Kuasa” karena dalam “Kami” ini ada mandat dari Allah sebagai pemberi tugas ( QS. Al An'aam [6]:61 ).

Perhatikan ayat di bawah ini; ada nama “Allah” kemudian ada kata “Kami” dan ada kata “kamu”. Ayat ini menggambarkan Kami adalah Kelembagaan Rabbul’alamin, diperintah Allah untuk menyampaikan perintah Allah kepada manusia.

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
( QS. An Nisaa' [4]:131 )

Demikian pula dalam menyampaikan Al Qur'an kepada manusia, yang mana hakekatnya Al Qur'an itu dari Allah dan izin Allah dengan melalui utusan-utusan-Nya di Lembaga Rabbul’alamin yaitu para Penguasa di alam semesta, para Malaikat Allah, kemudian utusan-utusan yang berupa manusia yaitu para Nabi dan Rasul Allah; sekalipun mereka telah tiada di alam dunia ini.

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup[2], tetapi kamu tidak menyadarinya.
( QS. Al Baqarah [2]:154 )


5.3. Rabbul’alamin Tempat Bersyukur

Bukti bersyukur kepada Allah tidak cukup hanya mengatakan terima kasih saja karena Allah Maha Kaya tidak butuh syukur hamba-hambanya dan Allah Maha Mensyukuri. Interaksi manusia Kepada Allah itu harus melalui memurnikan ketaatan dengan bersyukur/berterimakasih, tunduk, patuh, hingga kepada bentuk interaksi tingkat tertinggi yaitu manusia menyembah berserah diri kepada Allah.

Dan Musa berkata: “Jika kamu dan orang-orang yang berada di muka bumi semuanya mengingkari (ni’mat Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
( QS. Ibrahim [14]:8 )

Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.
( QS. An Nisaa’ [4]:147 )

Pada sisi Rabbul’alamin terdapat pengaturan-pengaturan tatanan kehidupan yang ditugaskan Allah. Pada tingkat Rabbul’alamin inilah manusia berinteraksi dengan berpuji syukur sebagai tanda puji syukur kepada Allah. Misalnya komponen dari Lembaga Rabbul’alamin yang menjadikan kita lahir ke dunia adalah dengan perantaraan orang tua.

Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina? Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim), sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.
( QS. Al Mursalaat [77]:20-24 )

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
( QS. Luqman [31]:14-15 )

Komponen Rabbul’alamin yang menumbuhkan padi adalah Bumi dengan peranan Matahari dan Angin. Komponen Rabbul’alamin yang menyalurkan rizki berupa materi kepada kita adalah konsumen dari perniagaan bagi kita yang pedagang, penyalur rizki untuk karyawan adalah majikan.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
( QS. Ibrahim [14]:7 )

Semua yang diberikan komponen tersebut kepada seorang manusia adalah dari Allah, tetapi tidak Allah langsung yang memberikan, interaksi dengan Rabbul’alamin itulah manusia mendapatkan sesuatu dari Allah.

Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.
( QS. Al Baqarah [2]:22 )
Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rizkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan (Rabb) Langit dan Bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.
( QS. Adz Dzaariyaat [51]:22-23 )

Segala sesuatu interaksi yang berkaitan dengan Rabbul’alamin hanya sebatas tunduk patuh dan berterima kasih/puji syukur. Kita tidak diperkenankan menyembah orang tua, menyembah Matahari, Bulan, Bintang, Malaikat, dan apapun yang diciptakan Allah, karena segala bentuk penyembahan tetap hanya untuk Allah.

Katakanlah (ya Muhammad): "Sesungguhnya aku dilarang menyembah sembahan yang kamu sembah selain Allah setelah datang kepadaku keterangan-keterangan dari Tuhanku; dan aku diperintahkan supaya tunduk patuh kepada Rabbil’alamin (Tuhan semesta alam).
( QS. Al Mu'min [40]:66 )

Tanpa interaksi rasa syukur seorang manusia kepada Rabbul’alamin maka tatanan kehidupan dia sendiri akan hancur.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari Langit dan Bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
( QS. Al A’raaf [7]:96 )

Bentuk syukur kepada Rabbul’alamin adalah berupa mencintai dan pemeliharaan tatanan kehidupan, mencintai dan melindungi sesama manusia, mencintai dan pemeliharaan lingkungan dan sumber daya alam dan mahluk di lingkungannya. Bila manusia tetap dalam kesesatannya, maka Azab Allah pun melalui Rabbul’alamin:

Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.
( QS. Al A’raaf [7]:133 )

Syukur kita kepada Rabbul’alamin selain manifestasi syukur kita kepada Allah, juga berarti syukur kepada diri sendiri karena diri kita pun adalah bagian dari Rabbul’alamin:

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.
( QS. Luqman [31]:12 )


5.4. Tuhanmu, Tuhannya, Tuhan Mereka

Seperti halnya mengenal Rabbil’alamin, mengenal Tuhanmu, Tuhannya, dan Tuhan Mereka adalah untuk mengetahui interaksi kita dengan Cahaya-cahaya Allah yang berlapis-lapis.

Allah menciptakan jasad manusia melalui Rabbul’alamin atau dengan kata lain: jasad manusia diciptakan Allah dari sesuatu yang ada di Alam Semesta. Kita perhatikan bagaimana Allah menciptakan jasad Nabi Adam a.s. tanah serta menciptakan jasad anak cucunya melalui kedua orangtuanya, tersebut dalam ayat berikut:

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).
( QS. As Sajdah [32]:7-8 )

Setelah proses penciptaan melalui perantaraan Rabbul’alain, kemudian dalam penyempurnaan penciptaan-Nya, Allah meniupkan langsung tanpa perantara yaitu Ruh-Nya.

Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.
( QS. As Sajdah [32]:9 )

Ruh inilah kesempurnaan manusia, maka Ruh ini pula yang disebut cahaya Allah sebagai pusat di dalam tubuh manusia. Seperti difirmankan dalam QS. An Nuur [24]:35 bahwa Cahaya Allah berlapis lapis atau Nuur’ala Nuurin, maka lapisan cahaya Allah yang terdekat dengan diri kita adalah Ruh. Atau dapat pula dikatakan bahwa ada Wakil Allah di dalam diri kita.

Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)? Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah. Katakanlah: "Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu". Atau apakah kamu hendak memberitakan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi, atau kamu mengatakan (tentang hal itu) sekedar perkataan pada lahirnya saja. Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh setan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorang pun yang akan memberi petunjuk.
( QS. Ar R'ad [13]:33 )

Ruh adalah satu-satunya kesempurnaan dalam diri manusia dan Ruh itu sendiri adalah bagian Cahaya Allah, sehingga Interaksi hamba dengan Sang Pencipta pun melalui Ruh.

Tuhanmu dalam ayat Al Qur'an yang mengandung kata sembahan dan kata Yang Menciptakan, maka kita dapat langsung mengerti bahwa itu hanya untuk Allah, seperti dalam ayat di bawah ini:

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.
( QS. Al Baqarah [2]:21 )

Tuhanmu, Tuhannya, Tuhan Mereka dapat diartikan Ruh-Mu, Ruh-nya, Ruh Mereka atau “sebagian Cahaya Allah yang ada pada dirimu/dirinya/diri mereka tempat kamu/dirinya/diri mereka berinteraksi dengan Allah”.

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.
( QS. Al A'raaf [7]:205 )

Kata “Tuhanmu” dalam suatu ayat dapat pula menandakan betapa dekatnya Allah dengan hamba-Nya. Kita perhatikan beberapa ayat di bawah ini:

Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat.
( QS. Al Israa' [17]:25 )

Sebagai contoh interaksi manusia dengan Allah adalah ketika Allah memberi Rahmat-Nya kepada manusia itu melalui tingkat cahaya-cahaya yang diteruskan kepada cahaya yang terendah, yang terdekat dengan manusia itu:

Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.
( QS. Al Baqarah [2]:5 )

Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.
( QS. Al Baqarah [2]:157 )

Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.
( QS. Huud [11]:119 )

Mudah-mudahan Tuhanmu akan melimpahkan rahmat (Nya) kepadamu; dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan), niscaya Kami kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka Jahanam penjara bagi orang-orang yang tidak beriman.
( QS. Al Israa' [17]:8 )

Jelaslah bahwa Ruh manusia itu sesuai dengan sembahannya:

(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
( QS. Al Baqarah [2]:112 )

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
( QS. Al Baqarah [2]:62 )

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.
( QS. Al Israa' [17]:57 )


5.5. Pertemuan Manusia dengan Tuhannya, Ruhnya

Sangatlah merugi seandainya pertemuan hamba dengan Sang Pencipta hanya ketika ia diwafatkan, karena akan timbul penyesalan sedang ia tidak dapat kembali hidup. Tetapi apabila ia telah menemukan di saat masih hidup di dunia, maka masih ada kesempatan untuk memperbaiki hidupnya.

Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.
( QS. Ar R'ad [13]:2 )

Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: "Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!", sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu.
( QS. Al An'aam [6]:31)

Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya.
( QS. Ar Ruum [30]:8 )

(Yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka". Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.
( QS. Al A'raaf [7]:51 )

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami.
( QS. Yunus [10]:7 )

Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelimang di dalam kesesatan mereka.
( QS. Yunus [10]:11 )

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: "Datangkanlah Al Qur'an yang lain dari ini atau gantilah dia". Katakanlah: "Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)".
( QS. Yunus [10]:15 )

Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.
( QS. Fushshilat [41]:54 )

Mahluk hidup diluar manusia sudah memenuhi fitrah Allah, sudah tunduk kepada ketentuan Allah yaitu sebagai penunjang kehidupan manusia, sedangkan manusia secara fitrahnya adalah sebagai Khalifah di muka bumi yang harus mengelola bumi dan seisinya sesuai dengan ketentuan Allah. Bagi Alam Semesta senantiasa bertasbih adalah cukup karena Alam Semesta tidak pernah melakukan dosa dan kesalahan, tetapi bagi manusia bertasbih saja tidaklah cukup karena manusia melakukan dosa.

Senantiasa bertasbih bagi manusia harus juga dibarengi dengan melakukan perbuatan amal kebaikan sebagai penebusan dosa-dosanya. Maka untuk itu diperlukan interaksi positif dari manusia kepada sesama :

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.
( QS. An Nisaa’ [4]:36 )

Dan juga interaksi manusia dengan mahluk lainnya sebagai komponen Rabbul’alamin:

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhan (Rabb)-lah mereka dihimpunkan.
( QS. Al An’aam [6]:38 )

Apabila manusia hanya bertaubat dengan melakukan shalat dan senantiasa berdzikir tanpa melakukan amal kebaikan sebagai penebusan dosanya, maka tentulah akan lebih mulia tumbuh-tumbuhan yang tidak pernah melakukan kesalahan dan selalu bertasbih sejak ia ada dan tumbuh. Dalam ayat-ayat Al Qur’an banyak disebutkan ‘tibangan kebaikan dan keburukan’. Kata ‘timbangan’ ini menunjukkan bahwa amal baik berlawanan dengan amal buruk yang tersimpan dalam dua sisi yang berlawanan seperti timbangan. Satu sisi nilainya turun bila sisi yang lainnya naik.

Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.
( QS. Al A’raaf [7]:8-9 )

Maka untuk melakukan interaksi positif itu terlebih dahulu memperbaiki interaksi buruk yang lalu dan menjaga interaksi-interaksi kedepannya. Untuk menjaga interaksi ini dapat kita mulai dengan yang sederhana tetapi sangat berdampak mendasar, seperti berpaling dari perbuatan sia-sia, menjauhkan diri dari lingkungan yang memungkinkan kita terpengaruh buruk

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.
( QS. Al Mu’minuun [23]:1-3 )

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan.
( QS. Al Furqaan [25]:72 )

Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermamfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang yang jahil”.
( QS. Al Qashash [28]:55 )

Setelah kita berusaha berpaling dari hal-hal yang tidak bermanfaat, lalu meninggalkan yang buruk, maka selanjutnya mengajak jasad untuk beramal menurut kemampuan:

Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu Kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya.
( QS. Al Mu’minuun [23]:62 )

Setelah beramal sebatas kemampuan kita, kemudian lakukan peningkatan beramal dengan amal yang lebih baik.

Dan dirikan shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapatnya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.
( QS. Al Baqarah [2]:110 )

Dengan melakukan perbaikan, beramal saleh, dan meningkatkan amal saleh, kemudian menetapkan penjagaan agar istiqomah dalam beramal dengan sabar:

Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada sebagian permulaan dari malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapus (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.
( QS. Huud [11]:114 )


5.6. Mencontoh Semesta Alam Mendapatkan Cahaya Allah

Seperti diwahyukan dalam QS. An Nuur [24]:35, bahwa Allah (Pemberi) cahaya kepada langit dan bumi. Allah memberikan cahaya-Nya karena senantiasa Rabbul’alamin ini tunduk patuh kepada Allah, bertasbih dan beribadah kepada Allah ( QS. Al Israa’ [17]:43 dan QS. An Nuur [24]:41 ).

Bersujud dan bertasbih seluruhnya yang ada di alam ini, tetapi ada pengecualian untuk manusia:

Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.
( QS. Al Hajj [22]:18 )

Sebagian besar manusia sudah bersujud dan bertasbih, tetapi juga banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azabnya karena dihinakan Allah. Bersujud dan bertasbih saja tanpa keikhlasan kepada Allah, maka akan hapuslah segala amal-amal yang pernah kita lakukan. Bersujud dan bertasbih tidak ada artinya bila manusia tetap dalam kesombongan, seperti halnya sujud, do’a, dan tasbih pada saat kesusahan saja.

Dan apabila Kami memberikan ni’mat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdo’a.
( QS. Fushshilat [41]:51 )

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina”.
( QS. Al Mu’min [40]:60 )

Agar Allah berkehendak kepada kita memberikan Cahaya-Nya maka bersujud, bertasbih dengan keikhlasan, beribadah dengan penyerahan diri.

Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.
( QS. Al Ahzab [33]:41-42 )

Selain kita diperintahkan untuk berdzikir dan bertasbih yang banyak, juga diperintahkan berdzikir dan bertasbih kapan saja:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
( QS. Ali ‘Imran [3]190-191 )

Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan di waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nya-lah segala puji di Langit dan di Bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur.
( QS. Ar Ruum [30]:17-18 )


Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.
( QS. Al Mu’min [40]:55 )

Maka bersabarlah kamu terhadap apa mereka (orang kafir) katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dan bertasbihlah kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang.
( QS. Qaaf [50]:39-40 )

Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri dan bertasbihlah kepadaNya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar).
( QS. Ath Thuur [52]:48-49 )

Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.
( QS. Al Insaan [76]:26 )

Tatkala kita sedang mencari nafkah di siang hari pun Allah memerintahkan agar kita selalu ingat Allah, ingat yang banyak kepada Allah agar beruntung:

Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.
( QS. Al Jumu’ah [62]:10)

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari ni’mat-Ku.
( QS. Al Baqarah [2]:152 )


5.7. Interaksi dengan Konsep Ego Positif

Berinteraksi positif dengan melakukan Konsep Ego Positif yang dimaksud adalah suatu cara menyiasati diri kita dalam mempermudah suatu pemahaman pada pencarian cahaya dalam interaksi dengan Rabbul’alamin. Dimana konsepnya adalah ‘katakan pada diri kita, bahwa Allah hanya menciptakan satu manusia, yaitu diri kita sendiri’. Yang ada hanya Allah Sang Pencipta dan hamba-Nya diri kita sendiri. Sedangkan mahluk lain adalah mahluk yang diciptakan-Nya untuk menguji dan berinterasi dengan kita agar Allah dapat menilai sampai dimana tingkat keimanan kita.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
( QS. Al Hujuraat [49]:13 )

Pada saat berhadapan dengan mahluk manusia yang bernama “orang tua”, bagaimana kita berinteraksi dengan mereka. Allah menciptakan mahluk yang bernama “saudara”, “suami/istri”, “tetangga”, “teman”, bagaimana kita berinteraksi dengan ciptaan-ciptaan-Nya itu? Apa sudah sesuai dengan kehendak-Nya seperti diwahyukan dalam:

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.
( QS. An Nisaa’ [4]:36 )

Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
( QS. Al Qashash [28]:77)

Pada saat berhadapan dengan mahluk manusia yang lebih tinggi derajatnya, kita diuji apakah kita tidak akan iri dengan keberadaan mereka? Apakah kita tetap mengatakan Allah Maha Adil? Apakah akan tetap bersyukur? Pada saat berhadapan dengan mahluk manusia yang lebih rendah derajatnya, kita diuji; apakah kita tidak akan sombong dengan keberadaan kita? Apakah kita akan menolong mahluk yang lebih rendah? Apakah kita akan bersyukur dengan keberadaan kita yang lebih dari mereka? Pada saat berhadapan mahluk manusia yang benci dengan kita; maka katakan pada diri kita, bahwa “dia” adalah mahluk ciptaan-Nya yang diutus Allah untuk menguji dengan kebencian terhadap kita, bagaimana kita berinteraksi dengan “dia”?

Dengan konsep Ego Positif ini, kita tidak akan pernah membenci siapapun juga sekalipun “dia membenci”, karena sudah kita anggap “mahluk yang diutus Allah untuk menguji keimanan kita”. Dan apabila kita perhatikan Hukum Qishaash dan hikmahnya pada QS. Al Baqarah [2]:178-179. Kita dapat membalas prilaku seseorang kepada kita, tetapi apabila kita membalas dengan kebajikan maka melepas hak Qishaash itu sebagai penebusan dosa bagi kita.

Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.
( QS. Al Baqarah [2]:178-179 )

Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka (pun) ada Qishaash-nya. Barangsiapa yang melepas (hak qishaash) nya, maka melepas hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutus perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.
( QS. Al Maa’idah [5]:45)

Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.
( QS. An Nahl [16]:126 )

Membalas keburukan dengan kebaikan:

Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.
( QS. Al Furqaan [25]:63 )

Membalas penghormatan dengan penghormatan yang lebih baik:


Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.

( QS. An Nisaa’ [4]:86 )

Membalas keburukan dengan kebaikan, membalas kebaikan dengan yang lebih baik, ini semua kebajikan. Kebajikan ini dijalankan karena semuanya akan kembali kepada diri kita sendiri.


Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasuki pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.

( QS. Al Israa’ [17]:7 )

Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

(QS. Ali ‘Imran [3]:133-134)

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.
(QS. Al Baqarah [2]:177)

Dan terjadinya interaksi baik atau buruk dengan Rabbul’alamin menjadikan timbal balik yang sama untuk manusia, seperti halnya yang telah Allah Firmankan dalam ayat:

Apa saja ni’mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi Saksi.
( QS. An Niisa’ [4]:79 )

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
( QS. An Nisaa’ [4]:100 )




[2] Yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui begaimana keadaan hidup mereka itu.