BAB IV. ALAM SEMESTA MACRO DAN MICRO

4.1. Manusia Adalah Alam Semesta Micro

Manusia merupakan alam semesta kecil (Microcosmic) sebagai gambaran alam semesta besar (Macrocosmic). Kebesaran Allah terdapat di Alam Semesta tercermin dalam diri kita sendiri

Kami akan memperlihatkan kepada mereka mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?
( QS. Fushshilat [41]:53 )

Alam yang macro adalah tempat hidup sekaligus sumber kehidupannya. Unsur-unsur dan bentuk-bentuk kehidupan yang terdapat di alam seperti tanah, air, angin/udara, api, tumbuhan, gugusan planet, dan hewan merupakan penyokong kelangsungan hidup manusia. Tanpa semua itu manusia tidak dapat hidup.

Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini, dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanNya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.
( QS. Al Jaatsiyah [45]:3-6 )


4.2. Mengenal Pusat di Alam Semesta Macro dan Micro

Pusat di alam semesta macro yang paling sederhana yang kita kenal adalah matahari, sedangkan pusat di alam semesta micro adalah Ruh di dalam diri manusia yang telah Allah berikan sebagai kesempurnaan manusia
( QS. As Sajdah [32]:9 ).

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengirinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
( QS. Asy Syams [91]:1-10 )

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia (Allah) menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati; tetapi kamu sedikit sekali bersyukur.
( QS. As Sajdah [32]:7-9 )

Penguasa di atas penguasa adalah Allah sebagai sumber dari segala sumber cahaya yang bersemayam di ‘Arsy. Penguasa/Rabb cahaya sebagai wakil Allah digugusan planet terdekat adalah matahari yang bersemayam di tempat peredarannya, dan Penguasa/Rabb pada tubuh manusia adalah Ruh-Nya yang bersemayam di dalam qolbu.

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan Cahaya Allah itu seperti lubang yang tidak tembus, yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yagn dikehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(QS. An Nuur [24]:35)

Di alam macro; Bulan tidak akan bersinar di kegelapan malam tanpa sinar Matahari. Bumi pun tidak akan terang benderang di siang hari tanpa ada Matahari yang menyinarinya. Di alam micro; Bulan diumpamakan sebagai Agama, Agama tidak akan menjadi penerang disaat kegelapan tanpa cahaya Ruh/Rabb. Bumi diumpamakan Ilmu, Ilmu tidak akan terang-benderang tanpa cahaya Ruh/Rabb.

Sumber energi lain yang memancarkan cahaya di alam macro adalah Binintang. Bintang dapat bersinar tanpa Matahari. Btang diibaratkan perut; tempat sumber energi jasad diolah. Sehingga dapat kita perhatikan seorang penjahat akan tetap hidup tanpa Rabb/Matahari dan Bumi/Ilmu karena mengandalkan energi yang dihasilkan Perut/Bintang. Dan bulan/Agama pun akan padam tanpa ada cahaya Qolbu/Matahari.

Cahaya Matahari tidak akan memancar dengan sempurna apabila terhalang oleh cuaca yang buruk yaitu dari Gejolak Alam. Gejolak Alam di Alam Micro digambarkan sebagai Nafsu. Tergambar dalam ayat berikut, dimana nafsu menutupi hati:

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya (rabbnya) dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkan sesat). Maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran?
( QS. Al Jaatsiyah [45]:23 )

Mekanisme terbuka dan tertutupnya pancaran sumber cahaya di alam micro itu memang diciptakan oleh Allah Swt, tetapi sebab akibatnya adalah perbuatan manusia itu sendiri. Keterangan ini terdapat dalam beberapa ayat, diantaranya adalah:

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).
( QS. Asy Syuura [42]:30 )
Apa saja ni’mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. ( QS. An Nisaa’ [4]:79 )

Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan beberapa komponen pusat (pancer) di Alam Micro dan Alam Macro adalah sebagai berikut:
1. Qolbu/Hati sebagai Matahari
2. Jantung/Agama sebagai Bulan
3. Otak kecil/Ilmu sebagai Bumi
4. Perut/seni sebagai Bintang
5. Kelamin/Nafsu sebagai Gejolak alam

Ke-5 (lima) komponen inilah yang disebut 4K5 (Empat Ka Lima) Pancer (pusat), yaitu 4 (Agama, Ilmu, Seni, dan Nafsu) dan yang ke-5 adalah sebagai pusat yaitu Ruh yang ada di Qolbu/Hati.

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia (Allah) akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
( QS. At Taghaabun [64]:11 )
Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk Islam (Keselamatan). Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatan, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.
( QS. Al An’aam [6]:125 )


4.3. Baitullah Micro Di Dalam Diri Manusia

Pada proses pencapaian kesempurnaan kaimanan ini kita adakan pendekatan lagi, yakni meyakini bahwa jasad dan Hati/Qolbu adalah sebagai Baitullah (Rumah Allah) micro di dalam diri manusia; kita sebut demikian karena adanya sebagian Ruh Allah yang telah Allah tiupkan (QS. As Sajdah [32]:7-9), Rabb (Sebagian Cahaya Allah Yang Menguasai jasad) pada dada manusia sebagai komponen manusia yang terdekat dengan Allah atau dapat dikatakan “Wakil Allah dalam diri manusia” untuk menuntun manusia kepada Cahaya Allah

Hati/Qolbu menjadi pusat peribadatan seluruh jasad dengan kekhusyuan, dan selalu dalam keadaan suci dan disucikan seperti halnya Baitullah Macro (Masjidil Haram):


Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang I’tikaaf, yang ruku’ dan yang sujud”.
( QS. Al Baqarah [2]:125 )

Dalam surat di atas Allah memerintahkan agar selalu menjaga Baitullah (Masjidil Haram), demikian pula untuk jasad sebagai Baitullah Micro dan Hati/Qolbu sebagai pusat Baitullah Micro. Baitullah Micro akan kotor apabila terkontaminasi kotoran yang ditimbulkan pikiran buruk dan juga pengaruh hawa nafsu sehingga menyebabkan dosa dan kehilafan, sebagaimana Firman Allah dalam Al Qur’an:

Maka pernahkan kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya (rabb-nya) dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberi petunjuk sesudah Allah (membiarkan sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
( QS. Al Jaatsiyah [45]:23 )

Kebersihan Baitullah Micro ini agar terjaga karena ada sebagian Cahaya Allah dalam diri kita yaitu Ruh yang merupakan “Wakil Allah” dalam rongga dada kita. Menjaga kebersihan dengan mengingat Allah setiap saat, terus berinteraksi melalui ibadah-ibadah.


4.4. Mengenal Komponen di Alam Semesta Macro dan Micro.

Setelah mengenal pusat di Alam Semesta Macro dan Micro; yang didalamnya benda langit besar yang perbandingannya pusat-pusat (pancer) di dalam tubuh kita, maka kita pun hendaknya memperhatikan komponen kecil di Alam Macro yaitu mahluk-mahluk selain kita yang bandingannya di dalam tubuh kita (di Alam Micro) adalah sel-sel tubuh.

Sel-sel tubuh yang tergambar sebagai umat manusia dari zaman Nabi Adam a.s hingga akhir zaman, semua ada di dalam tubuh setiap manusia, ini tergambar dalam ayat-ayat sebagai berikut:

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan Silaturahim.
( QS. An Nisaa’ [4]:1 )

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.
( QS. Al Maidah [5]:32 )


Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.

( QS. Al Israa’ [17]:7 )