“Aku bersaksi tiada ilah (tuhan sembahan) selain Allah, dan aku bersaksi Muhammad utusan Allah”
Begitu kira-kira arti dari ucapan syahadat yang sering kita ucapkan. Syahadat ini datang dari contoh yang diberikan Nabi Muhammad s.a.w. karena beliau sudah ditentukan sebagai suri tauladan bagi manusia sampai akhir zaman.
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
(QS. Al Ahzab [33]:21)
Dengan demikian pada saat Nabi Muhammad s.a.w. bersaksi, maka kita pun bersaksi dengan bunyi ucapan yang sama. Begitu pun dengan tujuan persaksian harus sama; Nabi Muhammad untuk dirinya dan kita untuk diri kita.
(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.
(QS. AN Nahl [16]:89)
“Muhammad” dalam kalimat syahadat tidak dapat ditambah shayidina seperti ada beberapa golongan umat muslim memakainya untuk shalawat. Demikian pula doa shalallahu’alaihiwassalam (s.a.w.) tidak dapat ditambahkan di depan “Muhammad” dalam syahadat, ini dikarenakan syahadat adalah sebuah persaksian diri yang bermakna RUHKU dan JASADKU UTUSANMU.
Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong.
(QS. Al Hajj [22]:78)
Oleh karena itu yang kita tujukan untuk pribadi Nabi Muhammad s.a.w. bukanlah syahadat tetapi shalawat. Pada shalawat diperbolehkan memakai kata penghormatan shayidina karena tujuan shalawat adalah do’a dan penghormatan kita kepada Nabi.
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.
(QS. Al Ahzab [33]:56)
Ada bukti lain bahwa syahadat adalah persaksian diri yaitu pada saat ada orang yang menyebut nama Nabi Muhammad, maka dianjurkan pendengarnya meneruskan dengan kalimat do’a: shalallahu’alaihiwassalam, sedangkan untuk menjawab Adzan pada kalimat: Ashaduanamuhammadarasulullah; maka jawabannya adalah kalimat itu sendiri dan tidak dapat diganti dengan sebuah do’a dan penghormatan shalallahu’alaihiwassalam.
Ataukah kamu mengatakan bahwa Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?" Katakanlah: "Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?" Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.
(QS. Al Baqarah [2]:140)
Masih ada penegasan-penegasan di dalam Al Qur’an dan kemudian didukung oleh sebuah hadist riwayat, yaitu pada QS. Alam Nasyrah ayat 1-8:
Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?
Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? 1585)
Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu 1586) . Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain 1587) , dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
1315) Yang dimaksud dengan “beban” di sini adalah kesusahan-kesusahan yang diderita Nabi Muhammad s.a.w. dalam menyampaikan risalah.
1316) Meninggikan nama Nabi Muhammad s.a.w. di sini maksudnya adalah meninggikan derajat dan mengikutkan namanya dengan nama Allah dalam kalimat syahadat, menjadikan taat kepada Nabi termasuk taat kepada Allah dan lain-lain.
1317) Maksudnya: sebagian ahli tafsir menafsirkan apabila kamu (Muhammad) telah selesai berda’wah, maka beribadatlah kepada Allah; apabila telah selesai mengerjakan urusan dunia maka kerjakanlah urusan akhirat.
Pada catatan kaki 1316 di atas disebutkan meninggikan derajat dengan mengikut sertakan nama Muhammad dengan nama Allah dalam kalimat syahadat. Surat Alam Nasyrah ini menurut riwayat turunnya (asbabun nuzul) yang diriwatkan Ibnu Jarir yang bersumber dari al-Hasan, menyebutkan bahwa:
Rasulullah SAW. bersabda: "Bergembiralah kalian karena akan datang kemudahan bagi kalian. Kesusahan tidak akan mengalahkan dua kemudahan."
Maka dapat ditarik kesimpulan dari ayat ini bahwa dua kalimat syahadat adalah suatu persaksian diri yang menjadi kunci. Kemudian penegasan Rasulullah pada hadist riwayat itu menyebutnya sebagai dua kemudahan.
Dalam surat Alam Nasyrah, Allah s.w.t. menjelaskan perintah kepada Nabi Muhammad s.a.w selaku manusia sempurna, maka dalam surat At Tiin diterangkan bahwa manusia itu adalah makhluk Allah yang mempunyai kesanggupan baik lahir maupun batin. Kesanggupannya itu menjadi kenyataan bilamana mereka mengikuti jejak Nabi Muhammad s.a.w. termasuk dalam persaksian dirinya pada kalimat pertama untuk batin bersaksi tiada ilah kecuali Allah, dan persaksian kedua untuk jasmaninya pun adalah utusan-Nya. (RuhKu dan Jasadku utusan-Mu)
Dan demikian Kami telah menjadikan kamu umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.
(QS. Al Baqarah [2]:143)