2.1. Islam adalah Tujuan Agama Tauhid
Allah tidak pernah menjadikan agama-agama, bagi Allah agama itu adalah satu yaitu agama Tauhid. Yang membedakan Agama Tauhid sebelum dan sesudah adanya Nabi Muhammad s.a.w. adalah kesempurnaan dalam menjalankan syariat, sedangkan tujuannya tetap adalah keselamatan (Islam). Maka dari pernyataan-pernyataan manusialah yang menjadikan agama menjadi golongan-golongan, seperti halnya difirmankan Allah:
Allah tidak pernah menjadikan agama-agama, bagi Allah agama itu adalah satu yaitu agama Tauhid. Yang membedakan Agama Tauhid sebelum dan sesudah adanya Nabi Muhammad s.a.w. adalah kesempurnaan dalam menjalankan syariat, sedangkan tujuannya tetap adalah keselamatan (Islam). Maka dari pernyataan-pernyataan manusialah yang menjadikan agama menjadi golongan-golongan, seperti halnya difirmankan Allah:
Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).
( QS. Al Mu'minuun [23]:53 )
Kata “ISLAM” menurut bahasa aslinya (bahasa Arab) yaitu berasal dari kata “SALIMA” yang berarti: “Keadaan selamat, tidak cacat, tidak tercela dari kerusakan dan kekurangan”; dari asal kata itu terbentuk kata “ASLAMA” yang berarti: “Memelihara dalam keadaan selamat sentosa”, ini dapat bermakna: “Mensucikan dan memelihara dari cacat, cela, serta dari bencana”. Keselamatan yang berkenaan dengan diri sendiri maupun yang berkenaan dengan sesama manusia serta segenap alam seisinya. Sehingga ditegaskan Allah dalam QS. Ar Ruum [30]:30 bahwa manusia menurut fitrahnya itu adalah yang perpegang pada Agama Tauhid yang menuju kepada keselamatanan (Islam).
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetapkanlah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.[1] (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan menusia tidak mengetahui, dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.
( QS. Ar Ruum [30]:30-31 )
Apabila tetap menganggap di dunia ini ada berbagai macam agama, maka di sisi Allah agama yang paling baik adalah agama yang para pengikutnya ikhlas dalam penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Itulah makna Tauhid yang berisi keyakinan akan keesaan Allah yang tidak sekedar merupakan hakikat keagamaan yang benar tetapi juga merupakan penunjang akal ilmiah yang lebih tepat, lebih teliti, dan lebih meyakinkan.
Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.
( QS. An Nisaa' [4]:125 )
Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.
Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.
(QS. Al Baqarah [2]:130)
Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat Tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu.
Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat Tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu.
( QS. Az Zukhruf [43]:28 )
Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.
Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.
( QS. Al Anbiyaa' [21]:92 )
2.2. Agama Tauhid dibawa oleh Para Nabi & Rasul Allah
Salah satu rukun dalam rukun iman; bahwa iman kepada Nabi & Rasul adalah kepada keseluruhan Nabi & Rasul Allah. Apabila kita sudah membeda-bedakan Nabi & Rasul Allah artinya kita sudah masuk ke dalam golongan yang dikafirkan Allah.
Salah satu rukun dalam rukun iman; bahwa iman kepada Nabi & Rasul adalah kepada keseluruhan Nabi & Rasul Allah. Apabila kita sudah membeda-bedakan Nabi & Rasul Allah artinya kita sudah masuk ke dalam golongan yang dikafirkan Allah.
Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya".
(QS. Al Baqarah [2]:136)
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.
( QS. An Nisaa' [4]:150-151)
Begitupun para Nabi dan Rasul Allah semua berpegang pada satu agama. Umat Muslim itu ada sejak sebelum Nabi Muhammad s.a.w. lahir artinya janganlah berpandangan sempit terhadap makna “Islam”:
Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur'an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.
( QS. Al Hajj [22]:78 )
Katakanlah: "Benarlah (apa yang difirmankan) Allah". Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.
( QS. Ali 'Imran [3]:95 )
Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik".
Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik".
( QS. Al An'aam [6]:161 )
Agama Tauhid adalah agama yang dibawa oleh para Nabi & Rasul Allah semuanya. Sedangkan Nabi Muhammad s.a.w. adalah penutup para Nabi dikarenakan agama Tauhid sudah disempurnakan Allah.
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
( QS. Al Ahzab [33]:40 )
Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif." dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.
Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif." dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.
( QS. An Nahl [16]:123 )
Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.
Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.
( QS. Ali 'Imran [3]:68 )
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".
( QS. Al Baqarah [2]:132 )
Dia telah mensyariatkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama) -Nya orang yang kembali (kepada-Nya).
Dia telah mensyariatkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama) -Nya orang yang kembali (kepada-Nya).
( QS. Asy Syuura [42]:13 )
Dan orang-orang yang membantah (agama) Allah sesudah agama itu diterima maka bantahan mereka itu sia-sia saja di sisi Tuhan mereka. Mereka mendapat kemurkaan (Allah) dan bagi mereka azab yang sangat keras.
Dan orang-orang yang membantah (agama) Allah sesudah agama itu diterima maka bantahan mereka itu sia-sia saja di sisi Tuhan mereka. Mereka mendapat kemurkaan (Allah) dan bagi mereka azab yang sangat keras.
( QS. Asy Syuura [42]:16 )
2.3. Agama Tauhid ada pada Kitab-kitab Allah
Demikian juga dengan iman kepada Kitab Allah adalah beriman kepada keseluruhan Kitab-kitab yang diturunkan Allah, seperti difirmankan Allah:
Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
( QS. Al Baqarah [2]:2-4 )
Sedang Al Qur'an sendiri ada pada kitab terdahulu dan sebaliknya; kitab terdahulu pun ada dalam Al Qur'an.
Dan sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar (tersebut) dalam Kitab-kitab orang yang dahulu.
( QS. Asy Syu'araa' [26]:196 )
Dia menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil.
Dia menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil.
( QS. Ali 'Imran [3]:3 )
Tidak ada satupun ayat yang menyeru di dalam Al Qur'an seruan yang ditujukan hanya untuk manusia dalam satu golongan saja, yang ada seruan kepada seluruh manusia agar menjadi selamat di dunia dan di akhirat. Al Qur'an ditujukan untuk siapa saja selama ia seorang manusia dan Al Qur'an adalah sebagai referensi dan penguji kebenaran akhir bagi kitab-kitab sebelumnya.
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.
( QS. Al Maa-idah [5]:48 )
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
( QS. Al Baqarah [2]:23 )
Kami tidak menurunkan Al Qur'an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas Arasy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai asmaulhusna (nama-nama yang baik).
( QS. Thaahaa [20]:2-8 )
2.4. Hak Mengkafirkan Manusia hanya Hak Allah
Tidak ada sedikitpun hak manusia mengkafirkan orang lain, hak mengkafirkan itu ada pada sisi Allah. Walaupun ada kebencian manusia kepada suatu kaum, manusia itu diperintahkan agar selalu menegakkan kebenaran dan berlaku adil.
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
( QS. Al Maa-idah [5]:8 )
Seorang Nabi sekalipun tidak ada hak untuk mengkafirkan seseorang atau suatu kaum, hak seorang Nabi atau Rasul hanya memberikan peringatan kepada umat.
Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, Allah mengawasi (perbuatan) mereka; dan kamu (ya Muhammad) bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka.
( QS. Asy Syuura [42]:6 )
Manusia adalah cermin bagi manusia lainnya, apabila kita melihat suatu kesalahan, maka sebelum kita berprasangka kepada orang lain, kita perhatikan diri kita terlebih dahulu.
Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.
( QS. Al Hujuraat [49]:11)
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.
( QS. Al Hujuraat [49]:12 )
Sebelum kita membenahi yang ada di dalam diri orang lain, kita benahi yang ada di dalam diri kita terlebih dahulu kemudian sampaikan dengan cara-cara yang baik kepada orang lain. Karena Allah pun tidak segera membinasakan hamba-Nya, karena kasih sayang Allah tetap tercurah kepada siapapun seburuk-buruknya manusia, Allah masih memberi kesempatan untuk bertaubat dan kembali kepada-Nya.
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
( QS. An Nahl [16]:90 )
Mari kita perhatikan diri kita dan memperbaiki diri kita agar menjadi rahmat bagi diri dan rahmat bagi sekalian alam.
(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan) mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.
( QS. An-Najm [53]:32 )
Apabila kita menemukan ayat-ayat Al Qur'an yang menerangkan tentang orang yang kafir, orang Yahudi, atau orang Nasrani; adalah lebih baik kita perhatikan diri kita, apakah sudah ada iman dalam diri kita ataukah unsur-unsur kafir, unsur Yahudi atau unsur Nasrani masih ada dalam diri kita?
"Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu."
( QS. Al Israa' [17]:14 )
[1] Fitrah Allah maksudnya: landasan dasar Allah menciptakan. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu Agama Tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama Tauhid maka hal itu diluar kewajaran. Mereka tidak beragama Tauhid itu hanyalah karena pengaruh dari luar diri dan luar naluri manusia.